Bahagia itu sederhana.. terhambur begitu saja di Gunung, Pantai, dan Senja..

Monday, October 1, 2012

Pantai, Senja, dan Biola





Pantai, Senja, dan Biola
bukan kehidupan baru, hanya hal-hal lama yang dinikmati bersama-sama.. :)


Pantai Siung,
30-September-2012

Sunday, September 9, 2012

Mimpi-Mimpi Anak Desa

Sebuah persembahan dari kami, KKN UGM 2009 Unit 113, Desa Dieng..
di dedikasikan untuk seluruh anak-anak desa yang masih memiliki cita-cita.. :)
Sebab Tuhan selalu ada, dalam setiap doa dan harapan..



Walau harapan mereka seringkali berakhir di ladang,
tapi semangat mereka tak akan pernah padam..


Friday, September 7, 2012

KKN Desa Dieng, Day-28

KKN Desa Dieng, Day-28


Ada yang aneh dengan Surya hari ini,
Tiba-tiba datang, pun tiba-tiba hilang,
Ada apa dengan Surya?
Kadang diam tenang bersembunyi di balik awan,
Kadang tersenyum senang di atas lautan.

Di sinilah aku sedang bercerita,
Di desa yang kokoh berdiri di atas awan-awan nirwana,
Dalam dingin yang tak pernah lelah mendekap raga.

Hari-hari demi hari berlalu penuh makna,
Dieng yang semakin mempesona,
Alamnya, masyarakatnya, dan juga kemuliaan hati anak-anak desanya,

Memang benar, KKN adalah masa-masa paling menghidupi selama menjadi mahasiwa.
Sesungguhnya desa adalah tempat paling bijaksana untuk memuliakan jiwa,
Ketika kota menyuburkan kemunafikan lewat topeng-topeng kepalsuan.

Hari penarikan KKN tinggal dihitung dengan jari,
Setiap detik, setiap menit, setiap jam terasa semakin berharga,
Melihat kesederhanaan anak-anak desa yang tak ada habisnya.

Menjadi seorang sarjana adalah impian dan harapan dari sebagian anak-anak desa ini,
Mereka tak ingin menjadi penerus orang tua mereka, sebagai petani,
Namun keadaan seringkali membuat harapan mereka berakhir di ladang,
Bukannya menjadi petani itu buruk,
Hanya saja tuntutan dunia saat ini lebih dari itu.

Apa sepenuhnya salah mereka yang tak mewujudkan cita-cita?
Sebagian adalah kesalahan kita,
Yang sibuk memperkaya diri,
Namun tak pernah peduli.

Sejujurnya, aku ingin tetap berada dalam lingkaran kabut putih ini.
Menjaga impian dan cita-cita anak-anak desa,
Tumbuh bersama mereka.

Harapanku sederhana, seluruh anak-anak di desa ini,
Selalu punya harapan dan keinginan untuk melanjutkan sekolah,
Setidaknya sampai SMA.

Aku mulai sadar,
Menjadi mahasiwa adalah keberuntungan yang tak ada bandingan,
Jika melihat lebih dalam ke daerah pedesaan,
Bagi mereka, anak-anak desa, bagaimana mungkin terpikir menjadi mahasiswa,
Jika di desa saja tak ada SMA.

Aku hanya merasa, dunia begitu tak adil untuk mereka,
Sedang anak-anak kota hidup dengan bergelimang harta,
Sekolah pun ada dimana-mana.

Kita hidup dirumah dengan dinding kaca,
Sedang mereka hidup di rumah beralaskan tanah,
Kita sering resah jika motor tak ada sebentar saja,
Sedang mereka masih saja tersenyum ke sekolah, walau harus melewati 4 desa,
Lewat kehidupan desa, aku mulai membuka mata.

Di langit sebelah barat, perlahan surya tertidur,
Lalu kabut mulai menyelimut,
Dingin senantiasa memeluk,
Ketika bulan purnama membuat muka telaga bercahaya.

Aku teringat kembali aktivitas hari seharian tadi,
Bermain, bernyanyi bersama anak-anak desa yang tak pernah lelah tertawa,
Walau sebagian hidup dalam keterbatasan,
Ada tawa di balik duka, ada duka dibalik tawa,
Sebab kata tak selalu bermakna,
Seperti makna yang tak selalu hadir lewat kata.

Semoga almamater milikku yang telah tergantung di rumah salah satu anak desa ini,
Membesarkan impian dan cita-citanya. Amin.





Desa Dieng,
5-Agustus-2012,
23.35
Salam hangat,
Ade Setio Nugroho

Saturday, September 1, 2012

Salam Perpisahan


Pada Suatu Senja..
Di desa yang keindahan alamnya luar biasa..
Kabut putih datang tanpa salam..
Bersama angin yang setia mencium rerumputan..
Sedang apa mereka?
Anak-anak mulia di pojokan desa..
Apa sedang memahat sunyi di depan bara api?
Atau sedang bercengkrama dengan Tuhan?
Lewat doa dan pengharapan..
Bertemu mereka di pedalaman desa..
Seperti menemukan cemara di rimbunnya savanna..
Teduh..
Walau jelas masih terlihat rapuh..
Apa arti senyumnya pada dunia?
Aku menafsirkan sederhana..
Ada tawa di balik duka..
Ada duka di balik tawa..

Tetaplah tersenyum..
Seperti muka telaga yang senantiasa bercahaya ketika purnama..

Jagalah mimpimu..
Walau kutau itu terlalu sulit untuk tubuh kecilmu..
Jagalah..
Maka aku bersumpah akan kujaga janjiku..
Selamat Tinggal..
Suatu saat aku akan kembali..
Sebab (ku yakin) janjiku akan tertagih..


10 agustus 2012
22.45 WIB
Ade Setio Nugroho

Saturday, August 18, 2012

Sepi Dikala Takbir Menggema Tanpa Henti


Tau apa itu sepi?
Sepi adalah ketika takbir bergema di seluruh penjuru kota tanpa henti..
Sedang aku hanya menulis di pojokan kamar sendiri..

Tak ada keluarga,
tak ada sodara..
Hanya ada sebungkus rokok dan pakaian kotor yang berserakan dimana-mana..

Sungguh..
tak ada penyesalan untuk keadaan ini..
Hanya saja aku tak pernah merasa di penjara sepi seperti malam ini..

Sedang apa mereka?
Keluarga..
mungkin sedang sibuk tertawa dengan ketupat dan opor ayam di atas meja.. :)

Setidaknya aku berusaha bermanfaat untuk sesama..
Kemanfaatan yang di tukar dengan rasa sepi dalam perasaan..

Surya sudah tertidur..
Seiring dgn senja yg mulai renta..
Tuhan..
kumohon berikan aku setidaknya 1 ramadhan lg saja..untukku bersama kluarga..

Selamat lebaran untuk yang merayakan..
Mohon maaf dari saya,
manusia yang tak pernah luput dari dosa..

Ade Setio Nugroho,
Yogyakarta, 18-Agustus-2012,
18.27
kamar kontrakan

Tuesday, July 31, 2012

Menikmati Eksotisme Matahari Pagi di Bukit Sikunir

Dini hari jam 3 pagi, dinginnya udara dieng membuat kami terjaga dari tidur lelap. Suasana desa dieng masih sunyi, gelap, sepi. Sang surya sepertinya masih terlelap di balik hitamnya langit malam. 10° C rasanya sudah lebih dari cukup untuk membuat tangan dan kaki menari-nari sendiri.
Hanya ada 1 alasan sebenarnya mengapa kami rela berlomba dengan sang surya untuk terjaga terlebih dahulu, “Puncak Bukit Sikunir!”. Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang konon katanya adalah pemukiman tertinggi di Indonesia, yang tinggi nya lebih dari 2100 mdpl. Kami rela terjaga jam 3 dini hari demi menikmati eksotisme matahari pagi di puncak bukit sikunir. Peralatan untuk bermain di alam pun telah kami siapkan, Rain Coat, Senter, sepatu, dll, sebab alam tak akan pernah memberi belas kasihan walaupun untuk orang-orang berpengalaman.
Jam 3.45 dini hari kami berangkat menggunakan sepeda motor dari desa dieng menuju desa sembungan, kaki bukit sikunir. Jari-jari tangan hampir mati rasa oleh angin malam yang mencium-cium ujung jari ini, dingin sekali. Perlu waktu sekitar 20 menit untuk sampai di kaki bukit sikunir dari desa dieng, melewati pemukiman yang mulai jarang dan jalan sempit berbatu, di beberapa tempat juga melewati pipa-pipa besar milik PT. Geodipa yang berisi uap-uap panas.
Jam 4.10 kami sampai di kaki bukit sikunir, hawa dingin pun semakin erat mendekap. Bintang-bintang mulai banyak sekali bermunculan, sebab tak ada polusi cahaya di sini, yang ada hanya cahaya-cahaya senter dari wisatawan-wisatawan lokal maupun internasional yang juga ingin naik ke bukit sikunir.
Jam 4.20, setelah berdoa, kami mulai mendaki bukit sikunir, dimulai dari jalan berbatu, kemudian masuk ke dalam rimbunnya hutan, namun beberapa bintang masih sanggup mengintip-ngintip dari langit. Perjalanan tidak terlalu melelahkan, 25 menit berjalan, kami pun telah sampai di puncak bukit sikunir, bersiap menunggu sang surya terjaga.
Untuk wisatawan-wisatawan yang ingin datang ke sini, kalian tidak akan kelaparan saat menunggu pagi, sebab warga-warga lokal ada yang berjualan kopi dan pop mie di puncak bukit ini, nikmat bukan, menyeruput secangkir kopi panas di saat dingin tak pernah lelah mendekap, lalu tinggal menunggu surya terjaga dari tidurnya. 
Jam 5.15, di langit sebelah timur rona kemerahan menyibak langit hitam kelam, fajar datang perlahan. Langit pun mulai terang, lalu Gn. Sindoro terlihat jelas berdiri dengan gagahnya, Gn. Perahu, Gn. Merapi, Gn. Merbabu dan juga Gn. Lawu. Saat kota menawarkan berjuta kemewahan, alam memberikan keindahan, dengan kesederhanaan. Begitu menawannya pemandangan dari puncak bukit sikunir.
Jam 6.00, matahari mulai naik semakin tinggi, setelah secangkir kopi habis, dan mata telah puas menikmati eskotisme matahari pagi di puncak bukit sikunir, kami bersiap turun. Perjalanan turun sangat singkat, hanya memerlukan waktu 10-15 menit.
Belum juga sampai di kaki bukit, mata kami langsung dimanjakan oleh sebuah telaga yang luas membentang, yang terselimuti oleh gelapnya malam ketika kami datang, telaga cebong namanya. Di pinggiran telaga cebong ada sebuah lapangan bola yang bisa digunakan sebagai camp ground. Satu kata untuk mendeskripsikan bukit sikunir, “EKSOTIS”.
Sekian tentang bukit sikunir, satu dari sekian banyak wisata istimewa di kawasan dieng dan sekitarnya.
  
                                                                                                                                            
*Foto-foto : Ade Setio Nugroho, Kaskus, Travel.detik

Tuesday, June 5, 2012

24 Jam Dalam Kabut Merapi

2-3 Juni 2012


- Sabtu, 2 juni 2012, jam 2 siang..
Puncak Merapi masih bersembunyi di balik kabut putih.. 
Sepi.. Sunyi..
Aku berjalan.. Perlahan di dalam awan..
Sesekali terdengar celotehan burung-burung..
Menari, lalu bernyayi di dalam rerimbunan pohon cantigi..
Aku masih bingung, kenapa aku disini?


- Sabtu, 2 juni 2012, jam 5 sore..
Kabut tipis perlahan turun mengisi lembah,
Apa surya sudah tertidur di balik tirai senja?
Dingin ini serasa menyayat - nyayat..
Sudah lama sekali..
Aku rindu rasa sakit ini..
Ketika gelap hampir datang,
Lalu dingin senantiasa menjelang..

 
- Sabtu, 2 juni 2012, jam 8 malam..
Purnama hampir tiba..
Malam memberi ruang tak hampa..
Kita pun masih tak lelah bercerita,
Tentang dunia, tentang senyum dan tawa..
Tentang makhluk bernama manusia..


- Minggu, 3 juni 2012, jam 11 siang..
Awan tak lagi menghalangi langkah kaki..
Apa kabar puncak Merapi?
Aku memperkenalkan seseorang lagi padamu hari ini..
Seorang wanita yang terlihat tangguh walaupun rapuh..
Kadang pula terlihat lemah walaupun tangguh..
Sambutlah kami, manusia-manusia yang sombong ini..
Ajari kami kerendahan hati, walau telah berdiri di tempat yang tinggi..
Sampai jumpa kembali, Merapi..



Gunung Merapi, 2-3 Juni 2012
Salam lestari,
Ade Setio Nugroho

Tuesday, May 8, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 4)

"Salam kenal pasir putih Gili Trawangan"


Kakiku melangkah, masuk menjamah lautan gili, pasir-pasir putih mulai memperkenalkan diri..
Aku langsung mencari penginapan untuk menyimpan barang, hei tunggu, penginapan bro, sejak kapan aku bermewah-mewah ketika berkelana di alam? Huahaha
Untuk kali ini, aku ingin menikmati alam dengan cara yang berbeda, tidak ada tenda, tidak ada nesting, tidak ada truk sayur/kereta ekonomi, I juts wanna enjoy the nature with different ways for this time.. :)

Setelah menyimpan barang aku keliling berjalan kaki di pinggir-pinggir pulau, pulau ini rame sekali, namun jauh lebih rame turis-turis asing dibandingkan wisatawan lokal. Untuk orang-orang yang suka dengan keramaian, party, hedon, tempat ini sangatlah cocok, kalian juga bisa menemukan bar dimana-mana. Namun untuk orang-orang yang suka dengan ketenangan, mungkin gili air atau gili meno lebih cocok untuk anda.

Di sini, tidak ada kendaraan yang menggunakan bahan bakar, tidak ada motor, apalagi mobil, yang ada hanyalah pejalan kaki, sepeda, dan cidomo. Cidomo adalah kendaraan seperti delman, menggunakan kuda, dan ada bak di belakangnya dengan 2 roda mobil, unik sekali. Jika ingin mengelilingi pulau, bisa dengan naik cidomo ini atau menggunakan sepeda.


Setelah pasir-pasir putih memperkenal diri, Desir-desir ombak, semilir-semilir angin, ikan-ikan di pantai seperti memanggil-manggilku dari tadi, aku langsung menyewa snorkle, untuk bersnorkling ria di pantai, sewa? Haha.. Like I said, kali ini aku ingin menikmati alam dengan cara yang berbeda.. :)

Hampir 1 jam mungkin aku bermain-main di pantai sambil bersnorkling ria, ditemani bule-bule seksi di sepanjang pantai.. Heuheuheu
Aku serasa ingin terus berada di dalam air, ikan-ikan ini, terumbu-terumbu karang ini, ah! Gili, kenapa kau begitu indah?


Ikan-ikan yang berwarna-warni memenuhi pantai gili, ada yang berwarna biru terang, ada yang berwarna merah, ada yang hitam bercorak garis kungin atau abu-abu. Menyelam mungkin lebih asik, tapi sayang, uangku tidak cukup untuk diving.. :(
Mungkin lain kali ketika aku kembali.. :)

Sore menjelang, aku menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau, sewa lagi? Hehe.
Pulau ini hanya memiliki lebar sekitar 3 km dan panjang 2 km. Aku bersepeda mengelilingi pulau, mencari tempat istimewa untuk menikmati senja, senja di gili trawangan..

Begitu aku sampai di bagian barat gili trawangan, senja sudah mulai renta, langit mulai membuka tali pengikat tirai senja, Surya mulai terhimpit, semakin terhimpit, lalu di tenggelamkan langit..


Gelap malam datang.. Aku masih diam tak bergumam.. Sungguh menenangkan..
Ah! Aku bukan mulai, tapi benar2 telah jatuh cinta pada tanah nusa tenggara..

Apakah yang sesungguhnya manusia cari? Selain ketenangan dan kedamaian.. Sulit sekali menjelaskan bagaimana alam memberikan 2 hal itu bersamaan.

Sekarang, aku hanya duduk di atas pasir putih, di depan garis pantai, bersama deburan2 ombak, ditemani alunan musik reggae dari bar di sampingku.. Namun damainya luar biasa aku rasakan.. Kenapa? Entahlah, sama seperti sebelumnya, lisan selalu sulit mengungkapkan, namun hati selalu bisa merasakan..

Besok aku akan meninggalkan tempat ini.. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan kembali, dengan kerendahan hati yg lebih dari aku di hari ini. Karna sesunguhnya petualangan adalah media untukku meraih kesederhanaan, dalam hati, dan dalam perasaan..

Sebab semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar dan paham, alam tak akan pernah bisa di taklukkan..

Selamat malam,
terima kasih Gili trawangan..

25-februari-2012
Di atas pasir putih gili trawangan



-Bersambung-

Sunday, April 29, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 3)

25-februari-2012

"Dengan bangga mereka menyebutnya, Gili Trawangan"

Satu bulan sudah aku di nusa tenggara, jenuh? Bohong besar jika aku bilang tidak.
Jumat malam, 24-februari-2012, aku naik bis dari sumbawa menuju lombok, menyebrangi lautan dengan kapal ferry.. Butuh waktu 6 jam untuk sampai ke mataram..

Aku berlomba-lomba dengan sang surya, siapa yang lebih dahulu menyapa kota. Tentu saja aku pemenangnya, aku bahkan terjaga dari sebelum fajar tiba.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap, menuju pelabuhan bangsal, lombok utara. Ada 2 jalur menuju pelabuhan bangsal dari mataram, lewat gunung sari atau pantai senggigi. Jika lewat gunung sari, kau akan melewati rerimbunan hutan yang asri, dan melihat banyak monyet-monyet liar di pinggir jalan. Jika lewat pantai senggigi, sepanjang jalur kau akan menyusuri garis pantai, barat pulau lombok, bukan main indahnya. Aku memilih lewat jalur pantai senggigi untuk jalur pergi, dan lewat gunung sari untuk jalur pulang.

Jam 10 lewat, aku sampai di pelabuhan bangsal. Ada 3 pilihan perjalanan dari sini, gili air, gili meno, atau gili trawangan. Untuk yang masih asing dengan "gili", mungkin bisa di liat di google earth, 3 pulau kecil di sebelah utara, atau mungkin lebih tepatnya timur laut pulau lombok, nah itulah 3 gili itu.

Baru saja tiba di pelabuhan, orang-orang kapal sudah mendatangiku, "gili trawangan mas? Ayo 10 ribu", aku langsung naik ke kapal kecil, yang di penuhi dengan sayur-sayuran, lauk-pauk, ikan, milik penduduk lokal beserta 2 orang turis dari skotlandia (pengakuan mereka). Ombak tidak begitu besar, malahan lebih menegangkan sewaktu aku ke pulau temajok (pulau kecil di sebelah barat kalimantan barat)


40 menit kemudian...

"Welcome To Gili Trawangan"

Lagi, lagi dan lagi.. Aku tertipu oleh alam nusa tenggara. Bulan lalu aku ke pantai senggigi, aku pikir, senggigi adalah pantai terindah, lalu aku pergi ke sumbawa, menjamah pantai-pantai di pinggiran sumbawa barat, pantai maluk, pantai tropi, dan aku langsung berpikir, tropi is the most beautiful beach I ever seen.. Dan sekarang, I'm totally wrong.. I'm speechless, nothing I can say.. Aku kira ini bukanlah lautan, lebih tepat jika aku bilang kolam renang yang sangat luas. Biru muda, biru tua, karang, kapal-kapal kecil. Ingin sebenarnya aku teriak, HEIII.. LIHATLAH, INILAH INDONESIA!!! WHAT A VERY BEAUTIFULL COUNTRY I HAVE!!!


Kakiku sudah tak sabar ingin masuk ke "kolam renang raksasa" ini. Ikan-ikan kecil sudah memanggil-manggil dari dalam air..


-bersambung-

Monday, April 16, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 2)

24-januari-2012


Lagi, Pagi ini aku menyapa kota lebih dahulu dari sang surya. Angin kencang di kota mataram mengiringi datangnya matahari pagi. Aku sudah siap melanjutkan perjalanan, carrier sudah terpasang di pundak, kaki sudah siap melangkah. Hari ini aku akan ke pulau sumbawa, menyebrangi lautan nusa tenggara dari pelabuhan kayangan, lombok timur.

Aku berangkat dari kota mataram jam 7 pagi, dibutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke pelabuhan kayangan. Harusnya aku naik boat milik perusahaan, namun boat sedang tidak beroperasi karna rusak, dan aku pun harus merogoh saku lagi Rp. 18000, menumpang kapal ferry.

Kapal ferry ini tidak jauh berbeda dengan kapal ferry di pontianak yang dipakai untuk menyebrangi sungai kapuas dari jalan tanjungpura menuju siantan, yang membedakan adalah medannya dan lama perjalanan. Jika ferry di pontianak hanya berlayar sekitar 10-15 menit, ferry di sumbawa berlayar sekitar 2 jam untuk sampai tempat tujuan. Jika ferry di pontianak menyebrangi sungai, ferry di sumbawa menyebrangi lautan.

Jam 9.10 WITA, aku sampai di pelabuhan kayangan, kapal ferry sudah hampir berangkat, setelah membeli karcis, aku pun berlari-lari menuju kapal.



Ini benar-benar tempat baru, orang-orang baru, tak satupun ada orang yang kukenal di sini. Tak pernah terfikir sama sekali aku akan berkelana sendiri di tempat ini, tempat yang jauh dari rumahku, tempat yang jauh dari kampus ku, tempat yang jauh dari tanah kelahiranku.

Namun inilah yang aku suka, melangkah menulusuri tempat-tempat baru, membuka mata kepada hal-hal baru. Sebab terlalu sayang rasanya, jika hidup yang relatif singkat ini di habiskan untuk hal-hal yang penuh dengan kemonotonan.

"TEEEETTT"
Suara dari kapal ferry, tanda bahwa kapal siap berangkat. Perlahan kapal meninggalkan dermaga, daratan lombok semakin lama semakin mengecil di pelupuk mata. Aku mulai tenggelam dalam sebuah lamunan, Rasa-rasanya aku masih tidak percaya, aku sedang berada di lautan nusa tenggara sekarang. Aku lahir di Kalimantan, saat SMP aku belajar geografi, aku hanya bisa melihat di peta, tanah nusa tenggara, seperti mimpi saja dulu pikirku akan menginjakkan kaki di tempat ini.


Lamunanku terpecah, saat melihat penyu besar mengapung di dekat kapal, besar sekali, aku yakin panjangnya lebih dari 1 meter. Ini kedua kalinya aku melihat penyu yang sebesar ini, yang pertama di pulau temajok (pulau kecil di dekat kalimantan barat) tapi sudah mati terdampar. Yang ini lebih besar dan masih hidup, sayang sekali belum sempat kuambil gambarnya, kapal sudah berlalu.

Aku mulai memperhatikan sekeliling, sungguh menakjubkan pemandangan sepanjang perjalanan menuju pulau sumbawa ini, banyak pulau-pulau kecil yang sepertinya tanpa penghuni, menghiasi lautan di antara pulau lombok dan pulau sumbawa. Ingin sekali rasanya aku melompat di laut biru ini, berenang menuju pulau-pulau kecil itu.

Jam 11.15 WITA, kapal ferry merapat, aku sampai di pelabuhan kanu, sumbawa. Betapa aku terkejut melihat garis pantai pulau sumbawa yang sangat.. Sangat.. Ah.. Susah sekali menggambarkannya, yang pastinya jauh lebih indah dari pantai senggigi. Pantai berwarna biru jernih, bahkan hingga kedalaman beberapa meter, air masih berwarna biru jernih, terlihat jelas ikan-ikan kecil dalam gerombolan berenang.


Memang benar, sumbawa adalah surga, bagi manusia yang cinta panorama dari sebuah pantai. Aku masih membayangkan, jika garis pantai di pelabuhan saja sudah sebagus ini, bagaimana indahnya pantai-pantai lain di pulau ini..

Ah! Lombok.. Sumbawa.. Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan tanah Nusa Tenggara..


Angin kencang dan debu-debu pasir yang berterbangan menyambut kedatanganku.
"Selamat Datang di Tanah Samawa"
Salam kenal, pulau sumbawa..
Kemana lagikah carrier ini akan kubawa?


-bersambung-

Sunday, April 15, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara


Petualangan di Nusa Tenggara, 23 januari - 24 meret 2012..
Selamat tinggal tanah jawa, aku akan berkelana 2 bulan, meninggalkan keramahan yogya, meninggalkan hiruk-pikuk jakarta, dan meninggalkan rutinitas lama. I called it, new place, new people, new rutinity, and absolutely, new life!

Pagi ini, tidak seperti biasa, aku menang dari sang surya, aku terjaga bahkan sebelum fajar menjelang. Aku memang harus berjuang pagi ini, melawan rutinitas lama, bangun siang! Pesawatku take off jam 7 pagi, dan aku harus naik bis jam 4 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta.

Jakarta jam 4 pagi, aku mulai berkhayal, andaikan jakarta juga seperti ini di siang dan malam, tanpa rentetan panjang mobil-mobil, tanpa polusi yang membuat bernafas pun sedikit risih.. Ah.. Sudahlah, itu hanyalah khayalan, benar-benar khayalan.

Jam 7.30 WIB, pesawat dari maskapai yang sering aku caci take off, harusnya jam 10.00 WITA aku sudah sampai di lombok, nusa tenggara barat. Jam 9.50 WITA pesawat melewati pulau dewata, pulau yang kurasa lebih sering berjumpa turis asing mungkin daripada orang pribumi. Pulau lombok pun sudah terlihat, daratan terasa sudah dekat sekali, garis pantai senggigi yang membentang panjang pun sudah melambai-lambai menyambut..


Pesawat semakin menurun, lalu tiba-tiba masuk ke gumpalan awan hitam yang besar, turbulen hebat menyebabkan goncangan yang keras, hampir 5menit pesawat tergoncang terus, ibu-ibu di dekatku pun mulai berdoa sepertinya meminta ampunan kepada Tuhannya. Huft, this is the worst flight I ever had.

Cuaca tidak memungkinkan untuk landing, sebab jarang pandang kurang dari 5 meter, setelah berputar-putar di atas pulau lombok, pilot memutuskan untuk putar balik dan mendarat darurat di bali. Jam 11.30 WITA pesawat berangkat lagi. Jam 12.00 WITA, pesawat landing, aku melihat tulisan besar "Bandara Internasional Lombok". What a long journey, dalam 6 jam aku menjejakkan kaki di 3 pulau berbeda. Setahun sudah aku ingin menjejakkan kaki di sini, akhirnya tercapai.


Dengan sebuah carrier besar di punggung dan sebuah daypack, aku melangkahkan kaki keluar dari bandara lombok. Orang yang berjalan sendirian dan membawa carrier besar adalah sasaran empuk calo-calo di sini, dan benar saja, calo-calo langsung dengan sigap menyerumutiku, cara paling ampuh menolak adalah dengan berkata, "aku dijemput bang".

Sebisa mungkin aku menghindari calo-calo itu dengan langsung naik bisa damri, tujuan pertama, pantai senggigi.


Bermodal 25 ribu, aku sampai di pantai senggigi, aku berjalan mengelilingi pantai senggigi, carrier ku tak terasa berat nya berkat panorama pantai ini. Garis pantai berwarna biru, pasir-pasir halus, pondok-pondok sederhana sampai yang paling mewah juga ada.. Turis-turis asing yang sedang snorkling, ada pula yang bermain kayak-kayak.. Asik sekali sepertinya bermain kayak-kayak di laut ini..
Sungguh manis pantai senggigi ini..
kuucapkan lagi kalimat kesukaanku,

"bahagia itu sederhana, terhambur begitu saja di gunung, pantai, dan senja.."


Apalagi kah yang harus kutulis untuk menggambarkan tempat yang indah ini? :)



Lalu, kemanakah kaki ini membawaku esok hari?
Hmm.. Sumbawa, ya pulau sumbawa..


-bersambung-

Sunday, January 8, 2012

Gadis Di Ujung Tangga


Sementara suara bising terasa begitu nyata,
Seseorang memahat sunyi di ujung tangga..
Di depan ruang bekas lantai dansa,
Tatap sepasang mata kami pertama berada..


Seorang gadis..
Rambut panjang tergerai manis..
Tatapan dingin dan lembut..
Berhias lingkar hitam di kantung mata..
Anggun.. Ya anggun..
Itulah kesannya nya untukku..


Duduk berdua memecah kesunyian yang ada..
Rongga telinga mulai mengeja suara.. 
Sunyi pun menjelma, menjadi kata dan cerita..
Terkadang tertawa manja..
Terkadang senyum menggoda..
Terkadang sibuk sendiri entah mengapa..


Memang benar,
3 jam setengah terlalu singkat untuk bercengkrama..
Rasa-rasanya baru saja menyapa,
Lalu harus beranjak menyudahi kata,
Sampai masa yang tak seorang pun mampu menduga..


Aku takkan menjanjikan apa-apa..
Tapi percayalah,
Aku menyukai perjumpaan kita..
Layaknya aku mencintai senja..
Sampai jumpa, gadis di ujung tangga..
Dari lelaki pecinta senja..





4 Januari 2011,
Di ruang tunggu A7 bandara Soekarno-Hatta


*foto oleh : Bayu Sandi Perwira