Bahagia itu sederhana.. terhambur begitu saja di Gunung, Pantai, dan Senja..
Showing posts with label Cerita di Gunung. Show all posts
Showing posts with label Cerita di Gunung. Show all posts

Wednesday, May 23, 2018

Rinjani 100: My First Trail Running

Rinjani100 2018, saat turun dari summit

Ikut event lari di gunung atau trail running adalah keinginan saya yang belum pernah tercapai sebelumnya. Pertama kali tau tentang trail running saat melihat event GP100 tahun 2015 (https://gedepangrango100.com/ ) (Trail running Gunung Gede dan Pangrango), namun pertama kali terbesit untuk ikut trail running adalah event BTS ultra tahun 2015 untuk kategori 30 km (https://btsultra.com/) (Trail running Gunung Bromo, Tengger, dan Semeru). Namun semuanya cuma angan belaka.

Pertengahan february lalu, saya diingatkan oleh memory facebook tentang postingan foto saya di gunung rinjani pada tahun 2012.

Rinjani, Juli 2012

Lalu saya mention hadi (teman saat mendaki rinjani 2012 lalu) "kapan kesini lagi?", dan di jawab dengan "aku sih bulan mei" lalu menyertakan website https://rinjani100.com/

Saya pun kepo, dan melihat ada peluang untuk ikut, ada 4 kategori yaitu 27 KM, 36 KM, 60 KM, 100 KM, hadi ikut kategori 60 km, saya berkesempatan untuk ikut kategori 27 km atau 36 km karna 2 kategori ini tidak memerlukan kualifikasi pernah ikut trail run atau half marathon ataupun full marathon sebelumnya. Ya, saya hanya punya pengalaman mendaki yang itu pun terakhir kali nya Agustus 2016, tidak punya pengalaman trail running, half marathon, apalagi full marathon, lari 10 km pun belum pernah. Tapi keinginan untuk pergi ke gunung lagi, untuk pergi ke rinjani lagi, ditambah dukungan dari anet yang juga rela waktu cuti saya yang terbatas dipergunakan untuk ke rinjani, membuat saya memberanikan diri untuk daftar.

Sebelumnya, saya bertanya ke hadi, apa tidak berlebihan untuk first time trail running saya ke rinjani. Namun hadi meyakinkan kalau rinjani lebih cocok untuk pendaki daripada pelari (road runner) dan basic pendaki saya akan sangat membantu disana. Saya pun mendaftar kategori 36 km.

Course Map Category 36 KM

Elevation Gain Category 36 KM

Saya diizinkan untuk ikut oleh Anet dengan syarat harus latihan, saya pun memulai latihan dengan jogging 5 km, dan meningkat menjadi 10km (cuma 2x sih hehehe). Hadi berpesan jika ingin finish saya harus pergi latihan lari di gunung walau hanya sekali, atau paling tidak latihan naik turun tangga, dan harus membuat kaki saya merasakan lari atau jogging sejauh 36 km. Karna saya hanya libur di hari minggu, opsi untuk latihan ke gunung adalah hal mustahil, dan saya pun hanya jogging dengan durasi rata-rata 1-2x/minggu dan jarak rata-rata 5 km.

Seminggu sebelum event Rinjani 100, saya mulai panik, saya merasa tidak melakukan cukup latihan, hanya jogging 5 km itu pun dengan pace yang tidak memuaskan, pace tercepat saya hanya 6'17. Saya bercerita ke Anet tentang kekhawatiran saya, namun jawaban Anet sangat menenangkan, "gak usah dipikirin finish under COT (Cut off time), enjoy aja, anggap aja ini untuk ngobatin kerinduanmu dengan Rinjani". Ya, Anet memang tau cara menenangkan saya. :)

Training Log sebelum Rinjani 100 yang sangat minim.

Tibalah hari keberangkatan ke Lombok, saya menggunakan shuttle bus yang disediakan panitia untuk menuju sembalun dari bandara. Setiba di sembalun saya menuju ke rumah bang ridwan (kenalan dari mang Anto Koboi) untuk menumpang menginap, penginapan di sembalun full booked bahkan dari 3 bulan sebelum race. Sore hari nya saya bertemu dengan hadi dan rombongannya, di antara rombongan hadi, tak satupun yang ikut kategori 36 km, semuanya ikut kategori 60 km dan 100 km, bahkan yang perempuan pun ikut nya 60 km, jadi minder saya. hahahahha. Malam hari mengambil race pack di race central, lalu istirahat, setelah berdiskusi dengan hadi tentang strategi target waktu untuk tiap water station supaya bisa finish under COT.

Race dimulai hari jumat jam 23.30, dan cut off time untuk kategori 36 km adalah hari sabtu jam 14.30 (15 jam). Pukul 22.30 saya sudah di race central, pemanasan, lalu menelfon anet sebentar, dan bilang jika saya sampai di puncak lebih awal dari target, saya akan mengabari, tapi jika mepet waktunya, saya akan mengabari selepas finish insyaAllah.

15 Menit sebelum start, masih bisa senyum sumringah.
10 menit sebelum start, lagu Indonesia Raya di perdengarkan, kami bersama-sama bernyanyi. Tepat pukul 23.30 race dimulai.

Start Line Sembalun, kategori 36 KM

KM 0 (Sembalun, Start Line) - KM 7.5 (Pos 1, W4)
Target waktu 2 jam. Hadi berpesan untuk menjaga Heart Rate (HR) di bawah 150, supaya nd penyok nanti katanya. Namun baru start saja HR saya langsung naik ke 170, saya turunkan pace supaya HR turun ke 150, tapi saya semakin tertinggal, saya pun menaikkan lagi pace supaya tetap bisa mengikuti orang di depan saya, dan HR pun naik menjadi 160-170. Saya sampai di Water station pertama dalam waktu 1.5 jam. lebih cepat setengah jam dari target. Saya tidak berhenti lama di sini, hanya mengisi aqua 600 ml dengan bubuk pocari sweat dan langsung melanjutkan perjalanan. Kondisi masih fit.

KM 7.5 (Pos 1, W4) - KM 13.5 (Plawangan Sembalun, W2)
Target waktu 4 jam. Dimulai dari pos 1 ini, tanjakan nya semakin menjadi jadi, ya, bukit penyesalan, bukit yang bikin saya maki-maki sambil gendong carrier 6 tahun lalu. Saya sampai di Plawangan sembalun atau water station kedua dalam waktu 3 jam, 1 jam lebih cepat dari target. Disini saya berhenti sejenak, mengisi air, lalu wudhu untuk persiapan solat subuh, karna saat tiba di plawangan sembalun sudah jam 4 pagi, adzan subuh sekitar jam 5.10, dan sudah pasti saya sedang dalam perjalanan menuju puncak dimana tidak ada air selain air minum saya. Kondisi masih fit.

KM 13.5 (Plawangan Sembalun, W2) - KM 18.2 (Puncak Rinjani, W3)
Target waktu 4 jam. Belum 200m start dari plawangan sembalun, paha kanan saya keram, padahal kondisi saya masih fit, mungkin karna berhenti mendadak, lalu terkena dingin saat wudhu, saya berhenti sejenak, takut bertambah parah keramnya, sekitar 1 menit saya duduk, baru melanjutkan lagi, dan alhamdulillah keramnya hilang. Trek pasir dan batu mulai menyiksa, menyiksa fisik dan mental, untung nya saya membawa trekking pole atas saran hadi yang ternyata sangat membantu, saya juga bersyukur sering main ke Gn. Merapi saat kuliah, jadi saya sudah terbiasa baik fisik maupun mental dengan jalur pasir batu yang sangat menyiksa ini. Saya sampai di puncak rinjani dalam waktu 3.5 jam, setengah jam lebih cepat dari target. Saya istirahat sekitar 15 menit, makan energi bar, minum, dan selfie selfie (bawa tongsis, wkwkkw). Kondisi masih fit.

Bonus Sunrise di jalur summit
Mulai emosi sama jalurnya. (Hak foto by RunGrapher)

KM 18.2 (Puncak Rinjani, W3) - KM 22.9 (Plawangan Sembalun, W2)
Target waktu 45 menit. Saya turun secepat mungkin, berlari saat jalur memungkinkan dan berjalan cepat jika berbahaya karna terlalu banyak batu. Satu Trekking pole saya sampai bengkok saat saya terjatuh (memang trekking pole 75rb sih). Saya sampai di Plawangan sembalun sekitar 1 jam, lebih lambat dari target. Saya pun mengurungkan niat untuk makan pop mie di WS sembalun, mengisi air dan coca cola, melipat jaket, dan langsung melanjutkan perjalanan. Lutut saya mulai terasa sakit.

Sampe nyungsep nyungsep. (Hak foto by RunGrapher)

KM 22.9 (Plawangan Sembalun, W2) - KM 28.9 (Pos 1, W4)
Target waktu 1.5 jam. Awalnya saya confident untuk bisa berlari cepat saat turun, karna sepengalaman saya naik gunung, saya hampir tidak pernah mengalami kesulitan dan selalu bisa ngebut saat turun (kecuali turun dari batas vegetasi Gn. Merapi jalur kinahrejo). Namun ternyata lutut saya sudah mulai nyeri, mungkin karna terlalu dipaksakan saat turun dari puncak dan teknik downhill yang kurang baik, ditambah sepatu saya yang licin (saya menggunakan road running shoes karna tidak punya trail running shoes). Saya hanya bisa berjalan cepat. Sampai di Pos 1 sekitar 2 jam. Mengisi air, lalu lanjut lagi. Lutut semakin nyeri.

Muka mulai ndak nyantai. (Hak foto by RunGrapher)

KM 28.9 (Pos 1, W4) - KM 36 (Sembalun, Finish line)
Target waktu 1 jam. Lutut saya semakin nyeri, semakin tersiksa saat turunan, rasanya sepengalaman saya di gunung, ini pertama kali nya saya merasa tersiksa dengan turunan dibandingkan tanjakan. Perut saya pun mulai tegang, dimana membuat saya tidak bisa menarik nafas panjang, saya tau, inilah resiko dari memaksakan tubuh saya, resiko dari kurang nya latihan, kaki dan badan saya belum pernah merasakan 36 km dalam semalam, dengan tanjakan dan turunan sadis rinjani. Saya hanya bisa berjalan disisa-sisa Km ini, dengan kondisi lutut dan perut yang sudah sangat sakit. Awalnya saya ingin memaksakan lari disisa-sisa Km ini, namun saya melihat jam, dan masih mungkin untuk saya finish dalam waktu under COT walau dengan berjalan, saya tidak ingin mengambil resiko kaki atau perut keram dan malah tidak bisa melanjutkan race ke finish line yang hanya tinggal sedikit ini. Beberapa ratus meter sebelum finish line, sudah terlihat race sentral, saya pun kembali semangat untuk memaksakan berlari kecil untuk masuk ke finish line. Saya sampai di sembalun sekitar 2 jam, 1 jam lebih lama dari target. Saya pun finish dengan waktu 13 jam 56 menit. Menyisakan waktu 1 jam 04 menit dari cut off time. Alhamdulillah, Allah memberikan saya kekuatan untuk menjadi finisher kategori 36 km.

Finish line, abaikan muka penyoknya. (Hak foto by RunGrapher)
Finisher Medal 36 KM

Melelahkan, menyakitkan, tapi saya merasakan kepuasan lain saat melewati finish line, kepuasan yang sulit untuk dijelaskan, namun membahagiakan.
Semoga ini menjadi awal yang baik untuk bisa ikut race dengan jarak yang lebih jauh dan motivasi untuk menjadi lebih kuat.
Lalu, saya pun berangan-angan untuk bisa menjadi finisher ultra trail 100 km suatu saat nanti, dimana Anet sudah menunggu di finish line untuk memberikan pelukan hangat. Ya, hopefully one day.


Ditulis di Malaysia, 23-May-2018,
Untuk pengalaman di Rinjani 100 race event, Gunung Rinjani, 4-6 May 2018



Bonus: Rinjani 100 tahun 2018 short video. (Source: https://rinjani100.com/)


Tuesday, October 7, 2014

Merapi, Her First Hiking Experience

20-21 Agustus 2014

"Bang, Anet dibolehin naik gunung sama abang"
Adalah 1 kalimat yang menggeparkan duniaku, siapa yang bisa menahan suka cita nya saat bisa membawa orang yang disayang ke gunung, dengan izin dari keluarganya. :D

Ini entah yang keberapa kalinya aku naik gunung merapi, tapi ada yang jelas berbeda kali ini. Hell yeah, it felt so fucking different when you brought the one you love..
For the first time, I thought i need someone to back me up when I guide a beginner at merapi.
Bukan karna aku ragu kemampuanku, hanya saja I wanna give my best for her, give the very safe condition for her. :)

Kadang aku heran, bagaimana mungkin seseorang yang baru 1x ke merapi, berani membawa 3 orang pemula, perempuan pula, sendirian.
Sinting? Iya. I heard that from my friend.

Sudah sejak lama, aku ingin membawa seseorang yang aku sayang ke tempat ini, ya, merapi, tempat yang sudah seperti taman bermain kami.
Aku ingin dia melihat langsung tirai senja dari pos 2,
Aku ingin menggigil bersama di kala temaram tiba,
Aku ingin melihat bintang jatuh bersama,
Dan segala tentang indahnya dunia jauh dari keramahan dan keramaian yogya.

Adakah yang lebih menyenangkan dari ini?
Membawa orang yang disayang berdiri di atas awan,
tersenyum senang setelah merangkak di atas tanah pasir berbatu, berdiri di atas tanah tertinggi di yogya..

I wrote this, "kota menawarkan berjuta kemewahan, tapi alam memberikan keindahan, dengan kesederhanaan".


Hari ini terasa sempurna, bukan karna senja yang membisukan kata.
Hari ini terasa sempurna, bukan karna temaram dan merah jingga nya.
Hari ini terasa sempurna, bukan karna puncak merapi dan kawahnya.
Hari ini terasa sempurna, karena, sederhana, ada dia.
Ada dia yang senyum bahagia dengan naik gunung pertamanya, puncak gunung pertamanya.  :)


Gunung Merapi,
20-21 Agustus 2014

Salam Sayang,
Ade Setio Nugroho

Saturday, May 3, 2014

Field Break Ke-Empat



Ada yang gugur perlahan ketika sayup mata mendayu,
Sebut saja itu rindu,
Ada yang kekal dan berkembang walau jarak membentang,
Sebut saja itu sayang,


(Langit mulai membiru,
diselimuti dingin dan angin yang tak berhenti menderu)

Di hadapan temaram yang masih membisu,
Aku bercerita tentangmu, sayang,
Sebab kukira, merekalah yang tak pernah jemu.


(Surya mengucap salam,
ketika langit mulai berbicara tentang kedamaian)

Di bibir kawah merapi yang sunyi,
Di balik peluh yang tak sempat kubasuh,
Ada langit yang bercerita lewat diam,
Ada aku yang bercerita lewat tulisan, dan harapan.

Untukmu,
Sayangku, 




 

Gunung Merapi,
24-25 April 2014,
5 hari sebelum pendakian ditutup dan status dinaikkan menjadi waspada
Ade Setio Nugroho

Sunday, August 18, 2013

Merdeka Itu....

Merdeka itu..
Bukan tentang kebebasan berbuat sesuka hati..
Namun tak punya semangat untuk berbagi..


Bukan tentang berbicara lantang, 

Namun tanpa makna dalam perenungan..


Merdeka itu..
Saat hatimu bebas dari rasa benci yang membelenggu..

Dirgahayu Negeriku..
Salam damai Merah Putih untuk negeri, dari puncak merapi..



Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho

Tuesday, June 5, 2012

24 Jam Dalam Kabut Merapi

2-3 Juni 2012


- Sabtu, 2 juni 2012, jam 2 siang..
Puncak Merapi masih bersembunyi di balik kabut putih.. 
Sepi.. Sunyi..
Aku berjalan.. Perlahan di dalam awan..
Sesekali terdengar celotehan burung-burung..
Menari, lalu bernyayi di dalam rerimbunan pohon cantigi..
Aku masih bingung, kenapa aku disini?


- Sabtu, 2 juni 2012, jam 5 sore..
Kabut tipis perlahan turun mengisi lembah,
Apa surya sudah tertidur di balik tirai senja?
Dingin ini serasa menyayat - nyayat..
Sudah lama sekali..
Aku rindu rasa sakit ini..
Ketika gelap hampir datang,
Lalu dingin senantiasa menjelang..

 
- Sabtu, 2 juni 2012, jam 8 malam..
Purnama hampir tiba..
Malam memberi ruang tak hampa..
Kita pun masih tak lelah bercerita,
Tentang dunia, tentang senyum dan tawa..
Tentang makhluk bernama manusia..


- Minggu, 3 juni 2012, jam 11 siang..
Awan tak lagi menghalangi langkah kaki..
Apa kabar puncak Merapi?
Aku memperkenalkan seseorang lagi padamu hari ini..
Seorang wanita yang terlihat tangguh walaupun rapuh..
Kadang pula terlihat lemah walaupun tangguh..
Sambutlah kami, manusia-manusia yang sombong ini..
Ajari kami kerendahan hati, walau telah berdiri di tempat yang tinggi..
Sampai jumpa kembali, Merapi..



Gunung Merapi, 2-3 Juni 2012
Salam lestari,
Ade Setio Nugroho

Sunday, October 23, 2011

Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Gunung

15-16 Oktober 2011

Gantungkanlah cita-citamu setinggi Gunung -ade-


Ini kali ketiga aku mendaki Gunung Merapi, setelah erupsi hampir satu tahun silam, seperti biasa, aku datang ke sini, ke gunung ini, ketika aku ingin menulis, aku datang ke sini ketika aku butuh waktu untuk menikmati sunyi, ketika kota mulai sedikit terasa memenjarakan jiwa.

Kali ini aku tidak pergi sendiri, aku membawa 10 orang teman bersamaku, yang lebih dari setengahnya belum pernah mendaki, berat?  Ya.. Tapi aku percaya kepada teman-temanku, aku yakin mereka bukan orang-orang bermental tapai yang akan merengek manja ketika jauh dari kota.

“Semoga kita diberikan kelancaran selama pendakian, dan mendapatkan makna atas apa yang kita lakukan”

Sepucuk kalimat sederhana, pembuka doa kami kepada Sang Pencipta sebelum memulai pendakian. 30 menit pendakian, seorang teman ingin kembali ke basecamp, “aku pusing de”, aku berhenti sejenak, berbicara sepatah-dua patah kata, dia pun mau mencoba melangkah lagi. Beberapa langkah, lalu berhenti lagi dan berbicara perlahan, “aku pusing banget de, gak enak hati juga, aku balik ke base camp aja ya, daripada nyusahin ntar”, aku masih berusaha membujuknya, tapi gagal, aku pun mengantarnya turun kembali ke base camp dan meminta seseorang untuk menggantikanku memimpin rombongan.

Aku kecewa, kecewa sekali, bukan kepada temanku yang tak mampu melangkah, namun kepada diriku yang tak mampu membuat semangatnya tergugah, sungguh… Aku bukanlah pemimpin yang hebat, bahkan masih jauh dari layak untuk disebut pemimpin.

Rombongan melanjutkan pendakian, aku turun mengantar seorang temanku ke basecamp dan berpesan kepada rombongan agar tidak menungguku, aku akan menyusul mereka sebelum sampai di pos 1, pesanku kepada mereka. Sesampai di base camp aku menitipkan temanku kepada kenalanku, aku bersyukur masih ada kenalanku di base camp, jadi aku bisa mendaki lagi dengan perasaan (sedikit) tenang, setidaknya ada yang menjaga temanku.

Aku melanjutkan pendakian, berjalan di gelap malam sendirian, rasa takut? Jelas ada.. tapi rasa nyaman dan damai yang lahir dari kesunyian malam, menutup rasa takut itu. Setapak demi setapak aku melangkah, tak terasa sudah hampir satu jam aku mendaki sendirian. Tepat jam 1 subuh, aku menyusul rombonganku, aku langsung melepaskan carrierku, istirahat sejenak, sambil dihibur oleh canda tawa teman-temanku. Ternyata mengasyikkan juga naik gunung beramai-ramai, baru kali ini aku mendaki dengan jumlah orang yang cukup banyak, karena sebelum-sebelumnya aku lebih suka naik gunung sendirian.

Aku istirahat sambil baring menatap langit, langit yang penuh dengan bintang-bintang indah bersama cahaya bulannya, aku memutar lagu favoritku, lagu yang selalu aku dengarkan ketika berada di gunung. Ost film “Gie”, Ciptaan eross So7.

“sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia

   retaplah malam yg dingin

reff: 
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan

berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia

akan aku telusuri
 jalan yg setapak ini
 semoga kutemukan jawaban”

Selesai mendengarkan lagu yang menenangkan itu, kami melanjutkan pendakian, hembusan angin semakin kencang, dingin pun mulai membelai pelan-pelan, tapi sama sekali tak mengurangi semangat teman-temanku untuk tetap melangkah.

Jam 02.30, puncak mulai terlihat, walaupun masih samar di balik bayang-bayang malam, kami istirahat sejenak, memasak air, lalu membuat kopi untuk menghangatkan badan.

 
Jam 03.30 kami mencukupkan istirahat, melanjutkan pendakian, aku memutuskan mengambil jalur landai yang ada di balik punggungan gunung, agar terhindar dari hembusan angin yang bisa membuat tenda dome terbang. 30 menit perjalanan, aku merasa jalur ini seperti sedikit asing, dan benar saja, aku salah jalur, tapi aku tahu benar dimana letak pos 2, di atas punggungan ini. Aku diam saja, tidak memberitahu rombongan bahwa kami salah jalur, karena percuma, kami tidak mungkin kembali lagi, memberitahu rombongan hanya akan melemahkan semangat mereka, jadi aku memilih diam, untuk tetap menjaga semangat mereka, sambil terus berteriak, “ayooo.. 15 menit lagi sampai pos 2, sunrisenya istimewa di sana”, padahal, sebenarnya aku sendiri tidak yakin berapa lama lagi sampai pos 2, kami saja masih salah jalur, tapi demi mereka, demi semangat mereka, aku terus berteriak-teriak seperti itu.

Jam 04.30, suara adzan subuh terdengar, gelap malam perlahan-lahan memudar, kami masih belum sampai di pos 2, aku mempercepat langkah. Jam 04.45 kami sampai di pos 2. Aku diam tak bergumam saat sampai di pos 2, kabut tebal menutupi langit di sebelah timur, aku sedikit kecewa. Aku membuat api unggun menghangatkan badan, bersandar di sebuah batu besar, lalu mengeluarkan coklat dari carrierku untuk mengisi energi, tiba-tiba terdengar suara, “ WOI.. SUNRISENYA.. SUNRISENYA..”, aku langsung memanjat batu besar tempat aku bersandar, berdiri menatap langit di sebelah timur. Kabut tebal perlahan-lahan terbawa angin, di langit timur muncul rona kemerahan, jingga dan.. ah.. entahlah itu warna apa, tapi yang pastinya mempesona tiap pasang bola mata dengan warna indahnya.

Aku memperhatikan sekelilingku, tahukah teman, betapa aku bahagia pagi ini, bukan ketika fajar datang dengan pesona indahnya, tapi ketika senyum bahagia lahir di wajah kalian, ketika malam berbubah jadi terang, ketika kita bersama menikmati hangatnya mentari pagi di Merapi ini. Kota menawarkan berjuta kemewahan, tapi alam memberikan keindahan dengan kesederhanaan.. 
Embun-embun mulai luruh, rona merah-jingga memudar, matahari muncul perlahan tepat dari balik gunung lawu.. Ahh.. pagi ini terasa begitu indah.. indah sekali. Seandainya seorang temanku yang sedang berada di basecamp bisa berada di sini, ikut merasakan betapa damainya hati di pagi ini.

  
“Pagi ini.. Ketika rona merah-jingga menebar pesona
Lisanku terpenjara..
Terkunci oleh indahnya mentari pagi..

Pagi ini.. adalah puisi..
Ketika embun-embun menyajakkan sepi..
Dalam panorama sunyi..

Pagi ini.. Kabut-kabut begitu baik hati..
Mereka pergi..
Membuka tirai penghalang..
Antara aku dan rasa damai..

Pagi ini.. Ketika embun-embun mulai luruh..
Aku tetap diam dan terjaga,,
Berdiri dan tak kuasa bicara,,
Menikmati panorama..
Yang tak henti-hentinya menebar rasa damai..

Pagi ini..
Begitu indah..
Begitu damai..
Merapi.. Bisakah kau hadirkan pagi ini lebih lama lagi?”

Matahari di ufuk timur mulai naik semakin tinggi, di sebelah utara ada Gunung Merbabu berdiri dengan gagahnya, agak jauh di sebelah barat terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa indahnya pagi di Merapi ini.


Jam 6 pagi, kami melanjutkan pendakian, puncak sudah terlihat dengan sangat jelas, putih seperti diselimuti salju, yang sebenarnya disebabkan oleh erupsi hampir setahun lalu. Dari pos 2 ini, butuh waktu setengah jam untuk sampai pasar bubrah (300 m sebelum puncak) dan sekitar 1,5 jam untuk sampai puncak.

Dari 10 orang rombonganku, 7 orang menjejakkan kaki di puncak, 2 orang beristirahat di pasar bubrah dan 1 orang menunggu di base camp.

Untuk teman-teman yang telah berkenalan dengan puncak Merapi dan melihat dengan jelas isi kawahnya, be gratefull bro.. hanya sedikit orang yang pernah berada di situ.

Untuk yang hanya sampai di pasar bubrah, jangan berkecil hati teman, gunung tidak melulu soal puncak, puncak gunung adalah bonus dari sebuah pendakian, yang terpenting adalah bagaimana memaknai segala apapun yang ada selama perjalanan.

Untuk seseorang yang terpaksa menuggu di basecamp, aku berjanji suatu hari akan membawamu kembali ke sini, menikmati sunyinya malam di Merapi, indahnya panorama matahari pagi, lalu berlari-lari di atas kubah pasir yang sangat terjal. One day. I promise.

nb : puisi di atas aku persembahkan untuk temanku yang menunggu di base camp.. agar bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan.. that's for you.. my friend.. :)
“Gantungkanlah cita-citamu setinggi Gunung” 

kenapa gunung? Bukan langit? Langit terlalu tinggi teman… hampir mustahil untuk diraih, gantungkan lah di puncak gunung, bisa dilihat tanpa harus menatap terlalu tinggi. Cukup tinggi namun tetap sulit diraih, perlu perjuangan, fisik dan mental yang keras, terkadang perlu berjalan di gelap malam yang menyeramkan, atau meniti jurang-jurang yang dalam, sangat sulit? YA.. tapi bukanlah hal yang mustahil, hanya butuh tekad yang lebih kuat dari biasanya dan usaha yang lebih banyak dari biasanya.. Jadi,  Gantungkanlah cita-citamu setinggi gunung.. :)

inilah ke-10 orang itu..
Faza, Ginta, Randi, Hasan, Yanuar, Agra, Pinto, Eki, Agung, Bila..
Untuk ke-10 orang temanku, kalian adalah orang-orang hebat yang pantas mendapatkan lebih dari sekedar acungan 2 jempol. Lanjutkan langkahmu teman, masih banyak Gunung-Gunung yang menanti kedatangan kalian, lalu dapatkan makna atas setiap perjalanan, karena mendaki Gunung bukan hanya perjalanan alam, tapi juga perjalanan hati.. 

Inilah Puncak Merapi dan isi kawahnya setelah erupsi hampir setahun lalu..



Mari nikmati indahnya alam Indonesia dari ketinggian..


Gunung Merapi, 15-16 Oktober 2011
Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho

Tuesday, July 5, 2011

Gunung Merbabu (solois) via cuntel

Sabtu pagi, 2 juli 2011, belum genap 2 hari libur semester genap tahun ini, tapi kakiku sudah gatal ingin melangkah ke tempat-tempat baru, badanku mulai rindu udara dingin yang menusuk-nusuk, dan jiwaku mulai candu akan ketenangan di puncak ketinggian gunung. Pagi itu, kuputuskan untuk berangkat naik gunung merbabu, jawa tengah, 3142 Mdpl. Awalnya aku mengajak seorang teman, tapi karna dia tidak bisa bergabung, aku berangkat sendiri (solois).

Aku langsung packing barang, menyewa tenda (gak dapet pinjaman -.-"), dan membeli logistic yang diperlukan, karena kali ini aku solois maka logistic harus lengkap, mulai dari tenda, alat masak, dan barang-barang lainnya. Aku membawa 4 liter air, tenda dome ukuran 2 orang, roti sobek, mie dan logistic lain yang diperlukan. Jam 13.00 aku selesai packing, sesaat sebelum berangkat, aku mendapat sms dari seorang teman, katanya mau ngasi sesuatu, jam 14.00 temanku sampai di kontrakanku, ternyata dia ngasi coklat, pas banget aku belum beli coklat.. hehe..


Jam 14.00 aku berangkat dari yogya naik motor, menuju kopeng, lewat magelang. Beberapa kilometer sebelum kopeng, gunung merbabu mulai terlihat jelas, kelihatan pula gunung sumbing di sebelah kiri jalan. 2 jam perjalanan dari yogya, aku sampai di base camp cuntel (pos pendaftaran pendakian). Setelah registrasi dan bertanya di base camp tentang letak tempat-tempat mata air di perjalanan nanti, aku langsung mulai mendaki.


Jam 16.15 aku memulai pendakian, baru aja start dari base camp tapi jalur langsung tanjakan terjal gak putus-putus, baru mulai aja udah ngos-ngosan.. hehe.. 30menit perjalanan, aku sampai di pos bayangan 1, belum ada yang special di sini, jadi aku melanjutkan perjalanan lagi, setelah 1 jam perjalanan aku samapi di pos 1, watu putut, 2145 Mdpl, aku istirahat sebentar. Hari semakin sore, senja menjelang, aku percepat langkahku menuju pos 2, karna dari info yang aku dapat, perjalanan dari pos 1 ke pos 2 tidak terlalu padat pohon, bagus untuk menikmati senja dan sunset. Di tengah perjalanan menuju pos 2, aku berhenti sejenak, sambil melihat segerombolan awan di bawah kakiku dan cahaya kemerah-merahan di pelupuk mata hasil dari pancaran sinar matahari yang hampir tenggelam.

Sunrise di Pos 2

Matahari terbenam, bulan sabit mulai tampak, di temani bintang-bintang yang mulai bermunculan pula, aku melanjukan perjalanan lagi, jam 18.30 aku sampai di pos 2, kedokan, 2300 Mdpl, di sini pemandangannya juga indah, terlihat kelap-kelip lampu kota magelang jauh di bawah kakiku, aku istirahat sebentar di pos 2, mengeluarkan alat masak, ngopi sejenak, sambil menikmati cahaya lampu kota magelang.

Setelah selesai ngopi, aku melanjutkan perjalanan lagi menuju pos 3 (2458 Mdpl), butuh sekitar 1 jam untuk sampai ke pos 3, dari sini, tanjakan nya mulai afgan lagi, jam 19.45 aku sampai di pos 3, di pos ini dingin mulai membelai pelan-pelan, aku mengeluarkan jaket 1 lagi agar lebih hangat, pos 3 adalah camp ground, karna datar seperti di lembah, di sini aku bertemu dengan rombongan dari Jakarta, ITB dan anak sma dari kopeng, rombongan dari kopeng membuat api unggun, aku ikut gabung duduk di dekat api unggun mereka.. hehe.. Aku istirahat 1 jam di sini, jam 22.00 aku melanjutkan perjalanan menuju pos 4, pemancar (2883 Mdpl) pos 4 adalah pertemuan dari jalur thekelan dan jalur cuntel, jadi pendaki yang lewat jalur cuntel dan thekelan, bisa bertemu di mulai dari pos 4.

Bikin kopi
Jam 23.00 sampai di pos 4, aku langsung mendirikan tenda, berencana bermalam di sini dan melanjutkan perjalanan besok pagi jam 4 subuh, supaya bisa menikmati sunrise di puncak merbabu. Setelah mendirikan tenda, aku masak untuk makan malam dan bikin kopi, perut udah mulai minta di supply sama sesuatu. Selesai makan dan menimati secangir kopi untuk sedikit mengalihkan hawa dingin yang mulai menusuk-nusuk, aku langsung tidur, menyiapkan tenaga buat summit attack.

Jam 03.30 aku bangun, membuat kopi, sambil mendengarkan music, menikmati dingin, gelap dan sunyinya gunung merbabu, setelah selesai ngopi, aku langsung melipat tenda dan kemas barang-barang, jam 04.30 aku melanjutkan pendakian, SUMMIT ATTACK!

Dari pos 4, menurut perhitungan, jika mendaki tanpa istirahat, butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke puncak tertingginya, kenteng songo, 3142 Mdpl, dengan semangat membara dan carrier yang semakin lama semakin terasa berat, aku melanjutkan pendakian, dari pos 4 jalur pendakian terasa seperti menurun, jauh, terus menurun, dan benar ternyata itu bukan perasaanku, tapi memang benar-benar menurun, sedikit sedih rasanya, setelah mendaki tinggi-tinggi, lalu mesti turun lagi, dan yang PASTInya harus NAIK lagi, karena tujuanku adalah puncak, kaki dan badanku sudah mulai terasa pegelnya, tapi tidak masalah buatku, selama aku masih sadar dan belum pingsan, berarti tenaga ku masih ada dan aku akan terus melangkah sampai tujuanku tercapai, PUNCAK KENTENG SONGO 3142 Mdpl.

Setelah setengah jam perjalanan, aku mulai mencium bau belerang, yang berasal dari kawah sisa letusan gunung merbabu di zaman dulu, kawahnya tidak terlihat, karna pekatnya gelap malam di sini, mulai dari tempat ini, medan tempur jalur pendakian adalah batu-batu, tidak sedikit batu besar setinggi lebih dari 1 meter menghalang jalan, dan harus memanjatnya. Setelah selesai berjuang melewati batu-batu besar itu, aku sampai di jembatan setan, di sebut jembatan setan karna jalannya cuma setapak dan di kanan-kirinya adalah jurang, aku berjalan perlahan.

Jembatan Setan
Setelah melewati jembatan setan, aku melihat langit di sebelah timur mulai tampak kemerah-merahan, aku semakin mempercepat langkahku, sebab aku ingin melihat sang surya yang mulai mengintip-ngintip di balik awan di sebelah timur itu di puncak gunung merbabu. Mendaki beberapa menit, aku sampai di persimpangan, dari persimpangan ini, pendaki bisa memilih, ke kiri ke puncak mbah syarip (3119 Mdpl) atau ke kanan ke puncak kenteng songo (3142 Mdpl) aku memilih puncak kenteng songo, puncak tertinggi gunung merbabu, dari puncak kenteng songo, 7 puncak tertinggi gunung merbabu bisa terlihat.


Jam 05.30, keadaan di sekelilingku mulai terang, tapi matahari belum muncul di atas awan, puncak kenteng songo semakin jelas terlihat, jalur pendakian pun semakin menantang, beberapa kali aku harus menuruni batu-batu terjal yang di sampingnya adalah jurang. Jam 05.50, tinggal sedikit lagi mencapai puncak, matahari sudah naik di atas awan, indah sekali, the best sunrise I ever seen.

Sunrise
Aku melanjutkan perjalanan lagi, tinggal sedikit lagi sampai di puncak kenteng songo, aku berhadapan dengan tebing, dan harus merayap di samping sisi-sisi tebingnya, aku merayap perlahan karna sambil membawa carrier, setelah melewati tebing itu, tinggal langkah terakhir menuju kenteng songo, tepat jam 06.00 pagi aku sampai di puncak kenteng songo (3142 Mdpl), sungguh perjalanan dan perjuangan yang panjang untuk sampai di tempat ini.


Pemandangan di puncak tertinggi gunung merbabu ini sungguh menawan, dari sini, bisa terlihat dengan jelas 7 puncak tertinggi gunung merbabu, puncak gunung merapi yang masih berasap, gunung sindoro, gunung sumbing, indah sekali teman. Tanpa sadar aku lupa akan rasa lelah di kaki dan pundakku, menikmati pesona pemandangan indah dari puncak tertinggi gunung merbabu.


Pendakian Gunung Merbabu (solois) via cuntel, end with Puncak Kenteng Songo 3142 Mdpl.

Puncak Kenteng Songo


aku pergi sendiri..
bukan untuk menunjukkan kekuatan seorang diri,
aku hanya mencari ketenangan lewat sunyi,
mencari kedamaian lewat indahnya alam di ketinggian..



Pendakian Gunung Merbabu (solois) via Cuntel
2-3 Juli 2011
Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho


P.S: Ketemu sama anak SMP di sana, kasi roti, minta tolong foto-fotoin. heuheu

Sunday, June 19, 2011

Cerita Tentang Pendakian Gunung Semeru (Part 3)

Sambungan Dari Part 2...



Dari arcopodo jarak yang perlu ditempuh untuk sampai di puncak tidak terlalu jauh, tapi karna medannya yang sulit dan sangat terjal, dibutuhkan waktu 5-6 jam untuk sampai ke puncak. Tak ada satu pohon pun di tempat ini, yang ada hanya pasir dan batu, lebar jalur pendakiannya hanya sekitar 1,5 m, di samping kanan-kirinya adalah jurang, aliran lahar. Mungkin terlihat menakutkan, tapi terasa sangat menyenangkan untuk orang-orang yang menyukai tantangan. Sedikit demi-sedikit, jalur pendakian ini membuat ku sedikit frustasi, karna langkah 3-1, yaitu 3 langkah maju, 1 langkah mundur, begitulah seringnya. Dalam kelelahan dan napas yang terengah-engah, aku melihat langit dan keadaan sekitar, eloknya langit di atas kepalaku malam ini, bulan yang hampir purnama, kelap-kelip bintang yang jumlahnya tak terhingga, bahkan beberapa kali kulihat bintang jatuh di langit. Tak banyak aku berhenti istirahat, karna puncak mahameru seperti sudah memanggil dan menanti kedatanganku, dengan penuh semangat dan dengan senter yang mulai redup, aku lanjutkan perjalananku, hembusan angin di ketinggian ini benar-benar terasa, terasa menusuk-nusuk tulang.




Dalam dinginnya malam, aku terus berjuang, mengejar puncak mahameru, mengejar imipianku, dan akhirnya, dengan perjuangan yang besar, setelah 4,5 jam, jam 4.30 pagi, aku sampai ke tempat yang datar dan tak ada lagi tanjakan, lalu aku lihat plang dari kayu bertuliskan “PUNCAK”. Kawan, ternyata aku telah sampai di puncak mahameru! aku sampai di tanah tertinggi di pulau jawa! Aku sampai di tempat impianku! Semua rasa lelah hilang seketika, terbayar dengan bangga dan bahagia yang tak bisa kuungkapkan dengan tulisan, terbayar dengan indahnya pemandangan dari tempat aku berdiri, tempat aku berpijak, aku mendapat salaman dan pelukan hangat dari teman-teman yang sama-sama berjuang untuk sampai di tempat ini. Aku terdiam, tak mampu bicara, sambil melihat awan yang berada di bawah kaki ku, lalu aku tertawa sendiri dan tanpa sadar air mataku menetes. Ini seperti negeri di atas awan, kawan, jika kau ingin melihat keindahan Indonesia, datanglah ke tempat ini, karna kau tak akan pernah mendapatkan keindahan Indonesia di kota, datanglah ke sini, dan kau akan sadar betapa indahnya Negara kita.





SUMMIT ATTACK SELESAI

Sudah hampir 1 jam aku berada di puncak, awan di sebelah timur mulai nampak kemerah-merahan, matahari mulai mengintip-ngintip dari kejauhan.



pemandangan di sekelilingku pun semakin jelas, ada gunung arjuna, di sebelah gunung arjuna terlihat gunung bromo sedang mengeluarkan asapnya, dan terlihat pula kota malang, ada monumen penghormatan untuk Soe Hoek Gie.



Lalu aku mengibarkan slayer pecinta alam kebanggaanku di sini, beberapa saat setelah aku membuka jaket, tiba-tiba terdengar suara.. DUAARRR!!!. Kawah Jonggring Saloko di puncak semeru yang masih aktif yang hanya berjarak 50 meter di depanku erupsi, asap panasnya membumbung tinggi hingga ratusan meter, aku lari kebelakang hingga terguling, awalnya aku takut, namun aku bangun dan berbalik, lalu mengambil foto untuk kenanganku, karna ini adalah momen langka dalam hidupku, aku melihat ada seorang bule wanita dari perancis yang sedang asik mengambil foto juga, aku bertanya, “hey mam, don’t you scare?” dia menjawab, “I don’t know why are u running, I don’t know that sound, I just see that’s beautifull scene”, lalu aku bilang, “if the smokes goes to us, we are going to die mam”. Dia pun menjawab lagi, “that’s no matter to die in this place, this is beautifull place”. Bahkan seorang bule merasa tidak masalah jika mati di tempat ini. Bisa kau bayangkan teman betapa indahnya tempat ini?.



Setelah cukup puas menikmati pemandangan di puncak mahameru, aku langsung turun, karna sebelum jam 9, tempat ini harus sudah kosong oleh pendaki, sebab di khawatirkan gas beracun dari kawah nya mengarah kearah pendaki. Betapa bahagianya aku bisa menikmati semua ini, dari semua yang telah aku lalui selama pendakian ini, aku mendapat sesuatu yang baru.


" Mendaki gunung bukan hanya perjalanan alam, tapi juga perjalanan hati, Mencapai puncak gunung bukan berarti berhasil menaklukkan gunung, tapi berhasil menaklukkan keegoisan atas diri sendiri, Karna sungguh.. gunung tercipta bukan untuk ditaklukkan, tapi untuk di nikmati keindahannya. "




Semeru..
Dinginmu adalah salju, namun kehangatan bagi hatiku..
Bagi jiwa terlunta oleh bisingnya kota..
Jurang-jurangmu adalah kegelapan..
Namun tumbuhkan keberanian di jiwa yang terdalam..
Pemandangan di puncakmu adalah ketenangan..
Yang tak bisa dijelaskan dengan lisan..

Hari ini.. Aku kembali..
Meninggalkan jurang-jurangmu..
Meninggalkan dingin dan sepimu..
Sampai jumpa kembali..
Semeru..




Cerita Tentang Pendakian Gunung Semeru selesai, tapi kenangan yang telah tersimpan di hatiku takkan pernah usai.. aku pergi.. bukan untuk melupakanmu, tapi untuk menceritakan kepada khalayak tentang pesona indahmu..




Pendakian Gunung Semeru, 11-15 Juni 2011
Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho