Bahagia itu sederhana.. terhambur begitu saja di Gunung, Pantai, dan Senja..

Tuesday, May 8, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 4)

"Salam kenal pasir putih Gili Trawangan"


Kakiku melangkah, masuk menjamah lautan gili, pasir-pasir putih mulai memperkenalkan diri..
Aku langsung mencari penginapan untuk menyimpan barang, hei tunggu, penginapan bro, sejak kapan aku bermewah-mewah ketika berkelana di alam? Huahaha
Untuk kali ini, aku ingin menikmati alam dengan cara yang berbeda, tidak ada tenda, tidak ada nesting, tidak ada truk sayur/kereta ekonomi, I juts wanna enjoy the nature with different ways for this time.. :)

Setelah menyimpan barang aku keliling berjalan kaki di pinggir-pinggir pulau, pulau ini rame sekali, namun jauh lebih rame turis-turis asing dibandingkan wisatawan lokal. Untuk orang-orang yang suka dengan keramaian, party, hedon, tempat ini sangatlah cocok, kalian juga bisa menemukan bar dimana-mana. Namun untuk orang-orang yang suka dengan ketenangan, mungkin gili air atau gili meno lebih cocok untuk anda.

Di sini, tidak ada kendaraan yang menggunakan bahan bakar, tidak ada motor, apalagi mobil, yang ada hanyalah pejalan kaki, sepeda, dan cidomo. Cidomo adalah kendaraan seperti delman, menggunakan kuda, dan ada bak di belakangnya dengan 2 roda mobil, unik sekali. Jika ingin mengelilingi pulau, bisa dengan naik cidomo ini atau menggunakan sepeda.


Setelah pasir-pasir putih memperkenal diri, Desir-desir ombak, semilir-semilir angin, ikan-ikan di pantai seperti memanggil-manggilku dari tadi, aku langsung menyewa snorkle, untuk bersnorkling ria di pantai, sewa? Haha.. Like I said, kali ini aku ingin menikmati alam dengan cara yang berbeda.. :)

Hampir 1 jam mungkin aku bermain-main di pantai sambil bersnorkling ria, ditemani bule-bule seksi di sepanjang pantai.. Heuheuheu
Aku serasa ingin terus berada di dalam air, ikan-ikan ini, terumbu-terumbu karang ini, ah! Gili, kenapa kau begitu indah?


Ikan-ikan yang berwarna-warni memenuhi pantai gili, ada yang berwarna biru terang, ada yang berwarna merah, ada yang hitam bercorak garis kungin atau abu-abu. Menyelam mungkin lebih asik, tapi sayang, uangku tidak cukup untuk diving.. :(
Mungkin lain kali ketika aku kembali.. :)

Sore menjelang, aku menyewa sepeda untuk mengelilingi pulau, sewa lagi? Hehe.
Pulau ini hanya memiliki lebar sekitar 3 km dan panjang 2 km. Aku bersepeda mengelilingi pulau, mencari tempat istimewa untuk menikmati senja, senja di gili trawangan..

Begitu aku sampai di bagian barat gili trawangan, senja sudah mulai renta, langit mulai membuka tali pengikat tirai senja, Surya mulai terhimpit, semakin terhimpit, lalu di tenggelamkan langit..


Gelap malam datang.. Aku masih diam tak bergumam.. Sungguh menenangkan..
Ah! Aku bukan mulai, tapi benar2 telah jatuh cinta pada tanah nusa tenggara..

Apakah yang sesungguhnya manusia cari? Selain ketenangan dan kedamaian.. Sulit sekali menjelaskan bagaimana alam memberikan 2 hal itu bersamaan.

Sekarang, aku hanya duduk di atas pasir putih, di depan garis pantai, bersama deburan2 ombak, ditemani alunan musik reggae dari bar di sampingku.. Namun damainya luar biasa aku rasakan.. Kenapa? Entahlah, sama seperti sebelumnya, lisan selalu sulit mengungkapkan, namun hati selalu bisa merasakan..

Besok aku akan meninggalkan tempat ini.. Tapi aku berjanji, suatu saat aku akan kembali, dengan kerendahan hati yg lebih dari aku di hari ini. Karna sesunguhnya petualangan adalah media untukku meraih kesederhanaan, dalam hati, dan dalam perasaan..

Sebab semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar dan paham, alam tak akan pernah bisa di taklukkan..

Selamat malam,
terima kasih Gili trawangan..

25-februari-2012
Di atas pasir putih gili trawangan



-Bersambung-

Sunday, April 29, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 3)

25-februari-2012

"Dengan bangga mereka menyebutnya, Gili Trawangan"

Satu bulan sudah aku di nusa tenggara, jenuh? Bohong besar jika aku bilang tidak.
Jumat malam, 24-februari-2012, aku naik bis dari sumbawa menuju lombok, menyebrangi lautan dengan kapal ferry.. Butuh waktu 6 jam untuk sampai ke mataram..

Aku berlomba-lomba dengan sang surya, siapa yang lebih dahulu menyapa kota. Tentu saja aku pemenangnya, aku bahkan terjaga dari sebelum fajar tiba.

Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap, menuju pelabuhan bangsal, lombok utara. Ada 2 jalur menuju pelabuhan bangsal dari mataram, lewat gunung sari atau pantai senggigi. Jika lewat gunung sari, kau akan melewati rerimbunan hutan yang asri, dan melihat banyak monyet-monyet liar di pinggir jalan. Jika lewat pantai senggigi, sepanjang jalur kau akan menyusuri garis pantai, barat pulau lombok, bukan main indahnya. Aku memilih lewat jalur pantai senggigi untuk jalur pergi, dan lewat gunung sari untuk jalur pulang.

Jam 10 lewat, aku sampai di pelabuhan bangsal. Ada 3 pilihan perjalanan dari sini, gili air, gili meno, atau gili trawangan. Untuk yang masih asing dengan "gili", mungkin bisa di liat di google earth, 3 pulau kecil di sebelah utara, atau mungkin lebih tepatnya timur laut pulau lombok, nah itulah 3 gili itu.

Baru saja tiba di pelabuhan, orang-orang kapal sudah mendatangiku, "gili trawangan mas? Ayo 10 ribu", aku langsung naik ke kapal kecil, yang di penuhi dengan sayur-sayuran, lauk-pauk, ikan, milik penduduk lokal beserta 2 orang turis dari skotlandia (pengakuan mereka). Ombak tidak begitu besar, malahan lebih menegangkan sewaktu aku ke pulau temajok (pulau kecil di sebelah barat kalimantan barat)


40 menit kemudian...

"Welcome To Gili Trawangan"

Lagi, lagi dan lagi.. Aku tertipu oleh alam nusa tenggara. Bulan lalu aku ke pantai senggigi, aku pikir, senggigi adalah pantai terindah, lalu aku pergi ke sumbawa, menjamah pantai-pantai di pinggiran sumbawa barat, pantai maluk, pantai tropi, dan aku langsung berpikir, tropi is the most beautiful beach I ever seen.. Dan sekarang, I'm totally wrong.. I'm speechless, nothing I can say.. Aku kira ini bukanlah lautan, lebih tepat jika aku bilang kolam renang yang sangat luas. Biru muda, biru tua, karang, kapal-kapal kecil. Ingin sebenarnya aku teriak, HEIII.. LIHATLAH, INILAH INDONESIA!!! WHAT A VERY BEAUTIFULL COUNTRY I HAVE!!!


Kakiku sudah tak sabar ingin masuk ke "kolam renang raksasa" ini. Ikan-ikan kecil sudah memanggil-manggil dari dalam air..


-bersambung-

Monday, April 16, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara (part 2)

24-januari-2012


Lagi, Pagi ini aku menyapa kota lebih dahulu dari sang surya. Angin kencang di kota mataram mengiringi datangnya matahari pagi. Aku sudah siap melanjutkan perjalanan, carrier sudah terpasang di pundak, kaki sudah siap melangkah. Hari ini aku akan ke pulau sumbawa, menyebrangi lautan nusa tenggara dari pelabuhan kayangan, lombok timur.

Aku berangkat dari kota mataram jam 7 pagi, dibutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke pelabuhan kayangan. Harusnya aku naik boat milik perusahaan, namun boat sedang tidak beroperasi karna rusak, dan aku pun harus merogoh saku lagi Rp. 18000, menumpang kapal ferry.

Kapal ferry ini tidak jauh berbeda dengan kapal ferry di pontianak yang dipakai untuk menyebrangi sungai kapuas dari jalan tanjungpura menuju siantan, yang membedakan adalah medannya dan lama perjalanan. Jika ferry di pontianak hanya berlayar sekitar 10-15 menit, ferry di sumbawa berlayar sekitar 2 jam untuk sampai tempat tujuan. Jika ferry di pontianak menyebrangi sungai, ferry di sumbawa menyebrangi lautan.

Jam 9.10 WITA, aku sampai di pelabuhan kayangan, kapal ferry sudah hampir berangkat, setelah membeli karcis, aku pun berlari-lari menuju kapal.



Ini benar-benar tempat baru, orang-orang baru, tak satupun ada orang yang kukenal di sini. Tak pernah terfikir sama sekali aku akan berkelana sendiri di tempat ini, tempat yang jauh dari rumahku, tempat yang jauh dari kampus ku, tempat yang jauh dari tanah kelahiranku.

Namun inilah yang aku suka, melangkah menulusuri tempat-tempat baru, membuka mata kepada hal-hal baru. Sebab terlalu sayang rasanya, jika hidup yang relatif singkat ini di habiskan untuk hal-hal yang penuh dengan kemonotonan.

"TEEEETTT"
Suara dari kapal ferry, tanda bahwa kapal siap berangkat. Perlahan kapal meninggalkan dermaga, daratan lombok semakin lama semakin mengecil di pelupuk mata. Aku mulai tenggelam dalam sebuah lamunan, Rasa-rasanya aku masih tidak percaya, aku sedang berada di lautan nusa tenggara sekarang. Aku lahir di Kalimantan, saat SMP aku belajar geografi, aku hanya bisa melihat di peta, tanah nusa tenggara, seperti mimpi saja dulu pikirku akan menginjakkan kaki di tempat ini.


Lamunanku terpecah, saat melihat penyu besar mengapung di dekat kapal, besar sekali, aku yakin panjangnya lebih dari 1 meter. Ini kedua kalinya aku melihat penyu yang sebesar ini, yang pertama di pulau temajok (pulau kecil di dekat kalimantan barat) tapi sudah mati terdampar. Yang ini lebih besar dan masih hidup, sayang sekali belum sempat kuambil gambarnya, kapal sudah berlalu.

Aku mulai memperhatikan sekeliling, sungguh menakjubkan pemandangan sepanjang perjalanan menuju pulau sumbawa ini, banyak pulau-pulau kecil yang sepertinya tanpa penghuni, menghiasi lautan di antara pulau lombok dan pulau sumbawa. Ingin sekali rasanya aku melompat di laut biru ini, berenang menuju pulau-pulau kecil itu.

Jam 11.15 WITA, kapal ferry merapat, aku sampai di pelabuhan kanu, sumbawa. Betapa aku terkejut melihat garis pantai pulau sumbawa yang sangat.. Sangat.. Ah.. Susah sekali menggambarkannya, yang pastinya jauh lebih indah dari pantai senggigi. Pantai berwarna biru jernih, bahkan hingga kedalaman beberapa meter, air masih berwarna biru jernih, terlihat jelas ikan-ikan kecil dalam gerombolan berenang.


Memang benar, sumbawa adalah surga, bagi manusia yang cinta panorama dari sebuah pantai. Aku masih membayangkan, jika garis pantai di pelabuhan saja sudah sebagus ini, bagaimana indahnya pantai-pantai lain di pulau ini..

Ah! Lombok.. Sumbawa.. Sepertinya aku mulai jatuh cinta dengan tanah Nusa Tenggara..


Angin kencang dan debu-debu pasir yang berterbangan menyambut kedatanganku.
"Selamat Datang di Tanah Samawa"
Salam kenal, pulau sumbawa..
Kemana lagikah carrier ini akan kubawa?


-bersambung-

Sunday, April 15, 2012

Sepenggal Cerita di Tanah Nusa Tenggara


Petualangan di Nusa Tenggara, 23 januari - 24 meret 2012..
Selamat tinggal tanah jawa, aku akan berkelana 2 bulan, meninggalkan keramahan yogya, meninggalkan hiruk-pikuk jakarta, dan meninggalkan rutinitas lama. I called it, new place, new people, new rutinity, and absolutely, new life!

Pagi ini, tidak seperti biasa, aku menang dari sang surya, aku terjaga bahkan sebelum fajar menjelang. Aku memang harus berjuang pagi ini, melawan rutinitas lama, bangun siang! Pesawatku take off jam 7 pagi, dan aku harus naik bis jam 4 pagi menuju bandara Soekarno-Hatta.

Jakarta jam 4 pagi, aku mulai berkhayal, andaikan jakarta juga seperti ini di siang dan malam, tanpa rentetan panjang mobil-mobil, tanpa polusi yang membuat bernafas pun sedikit risih.. Ah.. Sudahlah, itu hanyalah khayalan, benar-benar khayalan.

Jam 7.30 WIB, pesawat dari maskapai yang sering aku caci take off, harusnya jam 10.00 WITA aku sudah sampai di lombok, nusa tenggara barat. Jam 9.50 WITA pesawat melewati pulau dewata, pulau yang kurasa lebih sering berjumpa turis asing mungkin daripada orang pribumi. Pulau lombok pun sudah terlihat, daratan terasa sudah dekat sekali, garis pantai senggigi yang membentang panjang pun sudah melambai-lambai menyambut..


Pesawat semakin menurun, lalu tiba-tiba masuk ke gumpalan awan hitam yang besar, turbulen hebat menyebabkan goncangan yang keras, hampir 5menit pesawat tergoncang terus, ibu-ibu di dekatku pun mulai berdoa sepertinya meminta ampunan kepada Tuhannya. Huft, this is the worst flight I ever had.

Cuaca tidak memungkinkan untuk landing, sebab jarang pandang kurang dari 5 meter, setelah berputar-putar di atas pulau lombok, pilot memutuskan untuk putar balik dan mendarat darurat di bali. Jam 11.30 WITA pesawat berangkat lagi. Jam 12.00 WITA, pesawat landing, aku melihat tulisan besar "Bandara Internasional Lombok". What a long journey, dalam 6 jam aku menjejakkan kaki di 3 pulau berbeda. Setahun sudah aku ingin menjejakkan kaki di sini, akhirnya tercapai.


Dengan sebuah carrier besar di punggung dan sebuah daypack, aku melangkahkan kaki keluar dari bandara lombok. Orang yang berjalan sendirian dan membawa carrier besar adalah sasaran empuk calo-calo di sini, dan benar saja, calo-calo langsung dengan sigap menyerumutiku, cara paling ampuh menolak adalah dengan berkata, "aku dijemput bang".

Sebisa mungkin aku menghindari calo-calo itu dengan langsung naik bisa damri, tujuan pertama, pantai senggigi.


Bermodal 25 ribu, aku sampai di pantai senggigi, aku berjalan mengelilingi pantai senggigi, carrier ku tak terasa berat nya berkat panorama pantai ini. Garis pantai berwarna biru, pasir-pasir halus, pondok-pondok sederhana sampai yang paling mewah juga ada.. Turis-turis asing yang sedang snorkling, ada pula yang bermain kayak-kayak.. Asik sekali sepertinya bermain kayak-kayak di laut ini..
Sungguh manis pantai senggigi ini..
kuucapkan lagi kalimat kesukaanku,

"bahagia itu sederhana, terhambur begitu saja di gunung, pantai, dan senja.."


Apalagi kah yang harus kutulis untuk menggambarkan tempat yang indah ini? :)



Lalu, kemanakah kaki ini membawaku esok hari?
Hmm.. Sumbawa, ya pulau sumbawa..


-bersambung-

Sunday, January 8, 2012

Gadis Di Ujung Tangga


Sementara suara bising terasa begitu nyata,
Seseorang memahat sunyi di ujung tangga..
Di depan ruang bekas lantai dansa,
Tatap sepasang mata kami pertama berada..


Seorang gadis..
Rambut panjang tergerai manis..
Tatapan dingin dan lembut..
Berhias lingkar hitam di kantung mata..
Anggun.. Ya anggun..
Itulah kesannya nya untukku..


Duduk berdua memecah kesunyian yang ada..
Rongga telinga mulai mengeja suara.. 
Sunyi pun menjelma, menjadi kata dan cerita..
Terkadang tertawa manja..
Terkadang senyum menggoda..
Terkadang sibuk sendiri entah mengapa..


Memang benar,
3 jam setengah terlalu singkat untuk bercengkrama..
Rasa-rasanya baru saja menyapa,
Lalu harus beranjak menyudahi kata,
Sampai masa yang tak seorang pun mampu menduga..


Aku takkan menjanjikan apa-apa..
Tapi percayalah,
Aku menyukai perjumpaan kita..
Layaknya aku mencintai senja..
Sampai jumpa, gadis di ujung tangga..
Dari lelaki pecinta senja..





4 Januari 2011,
Di ruang tunggu A7 bandara Soekarno-Hatta


*foto oleh : Bayu Sandi Perwira

Saturday, December 24, 2011

Selamat Jalan Kawan, Damailah Dalam Dekapan Alam


beginilah jadinya jika bercinta dengan alam..
kadang menenangkan..
kadang meniadakan..
kadang menyenangkan..
kadang pula memilukan..
tak ada yang harus disalahkan..
dan tak ada yang perlu dibenarkan..
inilah alam..
seringkali muncul tanya..
apa aku akan sama seperti mereka..
tumbuh dan besar di alam..
lalu pergi dalam dekapan alam..
entahlah.. tak satupun tahu..
aku, kamu, dia, mereka..
biarlah alam memainkan perannya..
mendamaikan jiwa, lalu mengantar kembali ke tiada..

hanya kalimat-kalimat di atas yang bisa aku persembahkan untukmu saudaraku..
betapa pilu rasanya ketika mendengar kabar bahwa teman-teman sesama para penggiat alam (pecinta alam) mendapatkan musibah hingga hilangnya nyawa pada saat berada di alam..

Aku mendapat 3 berita duka dalam seminggu ini..

1. Ahmad Hidayat
meninggal di Gunung Papandayan karena Hypotermia

2. Muhammad Ardian
meninggal di Gunung Lawu pada saat diksar untuk menjadi anggota Mapala UNS, meninggal karena Hypotermia


3. Yessy Purnama Sari
meninggal di Sungai Sawangan pada saat Arung Jeram


sekali lagi,
tak ada yang harus di salahkan
dan tak ada yang perlu di benarkan..
inilah alam..
bukan alam yang membunuhnya..
alam hanya mengantarkannya kembali pada ketiadaan..
mungkin saja sebagian dari mereka cukup berbahagia karna pergi dalam dekapan alam..

Gunung
 Pantai
Sungai
 ataupun kota

tak ada bedanya, jika sudah waktunya..
Lalu, kenapa harus menyalahkan, dan kenapa mesti membenarkan?



Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho


Sunday, October 23, 2011

Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Gunung

15-16 Oktober 2011

Gantungkanlah cita-citamu setinggi Gunung -ade-


Ini kali ketiga aku mendaki Gunung Merapi, setelah erupsi hampir satu tahun silam, seperti biasa, aku datang ke sini, ke gunung ini, ketika aku ingin menulis, aku datang ke sini ketika aku butuh waktu untuk menikmati sunyi, ketika kota mulai sedikit terasa memenjarakan jiwa.

Kali ini aku tidak pergi sendiri, aku membawa 10 orang teman bersamaku, yang lebih dari setengahnya belum pernah mendaki, berat?  Ya.. Tapi aku percaya kepada teman-temanku, aku yakin mereka bukan orang-orang bermental tapai yang akan merengek manja ketika jauh dari kota.

“Semoga kita diberikan kelancaran selama pendakian, dan mendapatkan makna atas apa yang kita lakukan”

Sepucuk kalimat sederhana, pembuka doa kami kepada Sang Pencipta sebelum memulai pendakian. 30 menit pendakian, seorang teman ingin kembali ke basecamp, “aku pusing de”, aku berhenti sejenak, berbicara sepatah-dua patah kata, dia pun mau mencoba melangkah lagi. Beberapa langkah, lalu berhenti lagi dan berbicara perlahan, “aku pusing banget de, gak enak hati juga, aku balik ke base camp aja ya, daripada nyusahin ntar”, aku masih berusaha membujuknya, tapi gagal, aku pun mengantarnya turun kembali ke base camp dan meminta seseorang untuk menggantikanku memimpin rombongan.

Aku kecewa, kecewa sekali, bukan kepada temanku yang tak mampu melangkah, namun kepada diriku yang tak mampu membuat semangatnya tergugah, sungguh… Aku bukanlah pemimpin yang hebat, bahkan masih jauh dari layak untuk disebut pemimpin.

Rombongan melanjutkan pendakian, aku turun mengantar seorang temanku ke basecamp dan berpesan kepada rombongan agar tidak menungguku, aku akan menyusul mereka sebelum sampai di pos 1, pesanku kepada mereka. Sesampai di base camp aku menitipkan temanku kepada kenalanku, aku bersyukur masih ada kenalanku di base camp, jadi aku bisa mendaki lagi dengan perasaan (sedikit) tenang, setidaknya ada yang menjaga temanku.

Aku melanjutkan pendakian, berjalan di gelap malam sendirian, rasa takut? Jelas ada.. tapi rasa nyaman dan damai yang lahir dari kesunyian malam, menutup rasa takut itu. Setapak demi setapak aku melangkah, tak terasa sudah hampir satu jam aku mendaki sendirian. Tepat jam 1 subuh, aku menyusul rombonganku, aku langsung melepaskan carrierku, istirahat sejenak, sambil dihibur oleh canda tawa teman-temanku. Ternyata mengasyikkan juga naik gunung beramai-ramai, baru kali ini aku mendaki dengan jumlah orang yang cukup banyak, karena sebelum-sebelumnya aku lebih suka naik gunung sendirian.

Aku istirahat sambil baring menatap langit, langit yang penuh dengan bintang-bintang indah bersama cahaya bulannya, aku memutar lagu favoritku, lagu yang selalu aku dengarkan ketika berada di gunung. Ost film “Gie”, Ciptaan eross So7.

“sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku

sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia

   retaplah malam yg dingin

reff: 
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan

berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
hakikat manusia

akan aku telusuri
 jalan yg setapak ini
 semoga kutemukan jawaban”

Selesai mendengarkan lagu yang menenangkan itu, kami melanjutkan pendakian, hembusan angin semakin kencang, dingin pun mulai membelai pelan-pelan, tapi sama sekali tak mengurangi semangat teman-temanku untuk tetap melangkah.

Jam 02.30, puncak mulai terlihat, walaupun masih samar di balik bayang-bayang malam, kami istirahat sejenak, memasak air, lalu membuat kopi untuk menghangatkan badan.

 
Jam 03.30 kami mencukupkan istirahat, melanjutkan pendakian, aku memutuskan mengambil jalur landai yang ada di balik punggungan gunung, agar terhindar dari hembusan angin yang bisa membuat tenda dome terbang. 30 menit perjalanan, aku merasa jalur ini seperti sedikit asing, dan benar saja, aku salah jalur, tapi aku tahu benar dimana letak pos 2, di atas punggungan ini. Aku diam saja, tidak memberitahu rombongan bahwa kami salah jalur, karena percuma, kami tidak mungkin kembali lagi, memberitahu rombongan hanya akan melemahkan semangat mereka, jadi aku memilih diam, untuk tetap menjaga semangat mereka, sambil terus berteriak, “ayooo.. 15 menit lagi sampai pos 2, sunrisenya istimewa di sana”, padahal, sebenarnya aku sendiri tidak yakin berapa lama lagi sampai pos 2, kami saja masih salah jalur, tapi demi mereka, demi semangat mereka, aku terus berteriak-teriak seperti itu.

Jam 04.30, suara adzan subuh terdengar, gelap malam perlahan-lahan memudar, kami masih belum sampai di pos 2, aku mempercepat langkah. Jam 04.45 kami sampai di pos 2. Aku diam tak bergumam saat sampai di pos 2, kabut tebal menutupi langit di sebelah timur, aku sedikit kecewa. Aku membuat api unggun menghangatkan badan, bersandar di sebuah batu besar, lalu mengeluarkan coklat dari carrierku untuk mengisi energi, tiba-tiba terdengar suara, “ WOI.. SUNRISENYA.. SUNRISENYA..”, aku langsung memanjat batu besar tempat aku bersandar, berdiri menatap langit di sebelah timur. Kabut tebal perlahan-lahan terbawa angin, di langit timur muncul rona kemerahan, jingga dan.. ah.. entahlah itu warna apa, tapi yang pastinya mempesona tiap pasang bola mata dengan warna indahnya.

Aku memperhatikan sekelilingku, tahukah teman, betapa aku bahagia pagi ini, bukan ketika fajar datang dengan pesona indahnya, tapi ketika senyum bahagia lahir di wajah kalian, ketika malam berbubah jadi terang, ketika kita bersama menikmati hangatnya mentari pagi di Merapi ini. Kota menawarkan berjuta kemewahan, tapi alam memberikan keindahan dengan kesederhanaan.. 
Embun-embun mulai luruh, rona merah-jingga memudar, matahari muncul perlahan tepat dari balik gunung lawu.. Ahh.. pagi ini terasa begitu indah.. indah sekali. Seandainya seorang temanku yang sedang berada di basecamp bisa berada di sini, ikut merasakan betapa damainya hati di pagi ini.

  
“Pagi ini.. Ketika rona merah-jingga menebar pesona
Lisanku terpenjara..
Terkunci oleh indahnya mentari pagi..

Pagi ini.. adalah puisi..
Ketika embun-embun menyajakkan sepi..
Dalam panorama sunyi..

Pagi ini.. Kabut-kabut begitu baik hati..
Mereka pergi..
Membuka tirai penghalang..
Antara aku dan rasa damai..

Pagi ini.. Ketika embun-embun mulai luruh..
Aku tetap diam dan terjaga,,
Berdiri dan tak kuasa bicara,,
Menikmati panorama..
Yang tak henti-hentinya menebar rasa damai..

Pagi ini..
Begitu indah..
Begitu damai..
Merapi.. Bisakah kau hadirkan pagi ini lebih lama lagi?”

Matahari di ufuk timur mulai naik semakin tinggi, di sebelah utara ada Gunung Merbabu berdiri dengan gagahnya, agak jauh di sebelah barat terlihat Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan betapa indahnya pagi di Merapi ini.


Jam 6 pagi, kami melanjutkan pendakian, puncak sudah terlihat dengan sangat jelas, putih seperti diselimuti salju, yang sebenarnya disebabkan oleh erupsi hampir setahun lalu. Dari pos 2 ini, butuh waktu setengah jam untuk sampai pasar bubrah (300 m sebelum puncak) dan sekitar 1,5 jam untuk sampai puncak.

Dari 10 orang rombonganku, 7 orang menjejakkan kaki di puncak, 2 orang beristirahat di pasar bubrah dan 1 orang menunggu di base camp.

Untuk teman-teman yang telah berkenalan dengan puncak Merapi dan melihat dengan jelas isi kawahnya, be gratefull bro.. hanya sedikit orang yang pernah berada di situ.

Untuk yang hanya sampai di pasar bubrah, jangan berkecil hati teman, gunung tidak melulu soal puncak, puncak gunung adalah bonus dari sebuah pendakian, yang terpenting adalah bagaimana memaknai segala apapun yang ada selama perjalanan.

Untuk seseorang yang terpaksa menuggu di basecamp, aku berjanji suatu hari akan membawamu kembali ke sini, menikmati sunyinya malam di Merapi, indahnya panorama matahari pagi, lalu berlari-lari di atas kubah pasir yang sangat terjal. One day. I promise.

nb : puisi di atas aku persembahkan untuk temanku yang menunggu di base camp.. agar bisa ikut merasakan apa yang kami rasakan.. that's for you.. my friend.. :)
“Gantungkanlah cita-citamu setinggi Gunung” 

kenapa gunung? Bukan langit? Langit terlalu tinggi teman… hampir mustahil untuk diraih, gantungkan lah di puncak gunung, bisa dilihat tanpa harus menatap terlalu tinggi. Cukup tinggi namun tetap sulit diraih, perlu perjuangan, fisik dan mental yang keras, terkadang perlu berjalan di gelap malam yang menyeramkan, atau meniti jurang-jurang yang dalam, sangat sulit? YA.. tapi bukanlah hal yang mustahil, hanya butuh tekad yang lebih kuat dari biasanya dan usaha yang lebih banyak dari biasanya.. Jadi,  Gantungkanlah cita-citamu setinggi gunung.. :)

inilah ke-10 orang itu..
Faza, Ginta, Randi, Hasan, Yanuar, Agra, Pinto, Eki, Agung, Bila..
Untuk ke-10 orang temanku, kalian adalah orang-orang hebat yang pantas mendapatkan lebih dari sekedar acungan 2 jempol. Lanjutkan langkahmu teman, masih banyak Gunung-Gunung yang menanti kedatangan kalian, lalu dapatkan makna atas setiap perjalanan, karena mendaki Gunung bukan hanya perjalanan alam, tapi juga perjalanan hati.. 

Inilah Puncak Merapi dan isi kawahnya setelah erupsi hampir setahun lalu..



Mari nikmati indahnya alam Indonesia dari ketinggian..


Gunung Merapi, 15-16 Oktober 2011
Salam Lestari,
Ade Setio Nugroho

Saturday, October 1, 2011

Kepada Akar Pohon dan Dedaunan

30-September-2011

"Alam adalah sekolah terbaik untuk manusia"  -andreas-


Pada suatu ketika..
Ketika senja jingga berubah menjadi malam buta,
Ketika seorang anak manusia berbicara lewat diamnya..

Angin pun pelan-pelan datang,
Berbisik pada pepohonan yang diam..
Bercerita tentang akar pohon dan dedaunan..

Yang tak pernah berjumpa di atas bangku taman..
Tak pernah pula bercengkrama di musim semi yang kelam..

Daun-daun mulai berguguran..
Terbang kesana-kemari tak tentu tujuan..

Apakah ke arah bangku taman?
Atau ke tanah menyentuh akar pepohonan?

Angin adalah Tuhan, bagi akar pepohonan,
Menjatuhkan dedaunan pada musim gugur yang nyaman..
Yang konon mengembalikan daun pada kedamaian..

Sementara angin menebar kedamaian,
Sementara gelap malam datang perlahan,
Seorang anak manusia masih diam,
Mencari makna tentang Tuhan dan alam..




30 September 2011,
Di Pojokan kantin

Saturday, September 17, 2011

24 Tahun SISPALA Smansa Pontianak

Selamat bertambah tua SISPALA SMANSA dan SMAN 1 Pontianak..


14 September 1987, 24 tahun yang lalu, Sebuah organisasi pecinta alam tertua di Kalimantan Barat lahir, SISPALA SMANSA PONTIANAK.


Banyak cerita indah mengiringi perjalanan nya.. Banyak orang hebat di dalamnya..
Banyak yang berkembang karena nya, ada yg menjadi lebih baik, bahkan ada pula yg menjadi kurang baik..
Ada yang menyesal menjadi bagian dari SISPALA, tapi tidak sedikit yang bangga menjadi seorang anggota SISPALA..


"Dengan ikut sispala, aku gak janjikan ke kalian, kalian bakalan jadi orang yg lebih baik, tapi kalian akan jadi orang yg berbeda"
Itu sekutip perkataan dari seorang sahabat saya (@zaldyfitraapri), yah.. Kami tidak melabel kami lebih baik, tapi kami jelas berbeda..
Alam bukanlah hal yang dimengerti semua orang, namun bisa dinikmati semua orang, walaupun yang menikmati seringkali tidak peduli..
Walaupun yang peduli tidak selalu memberikan yang berarti.. Tapi harapan tentang Sispala yang selalu peduli tak akan pernah mati
Dan Sispala yang selalu memberikan yang berarti.. Adalah harapan kami, adalah harapan kita, adalah harapan banyak jiwa..
Sebab Tuhan sering berbisik lewat alam, sebab Tuhan sering bicara lewat diam..


Sekian tentang HUT SISPALA SMANSA PONTIANAK yang ke-24.. Smoga menumbuhkan sesuatu yang belum tumbuh, dan memupuk yang telah tumbuh :)
Salam seharum seribu bunga.. Sehangat Mentari.. Selembut embun pagi..

Tuesday, September 13, 2011

Sajak Kepada Pejuang Malam

Semilir angin di pinggiran jalan,
pejuang malam masih melangkahkan kaki dengan punggungnya yang usang..

Menantang hidup dengan mata sendu,
Pun penuh tanya yang membeku,

"Ah! Apalah arti mimpi,
Jika tidurpun di pinggir kali..
Jika matipun berteman sepi.."

"Aku hidup di telaga mati,
Aku hidup di lautan perih,
Yang Angin pun enggan membelai,
Yang Ombak pun enggan berdamai.."

Malam semakin larut,
Sang jiwa mulai takut,
Tetesan embun kadang menyejukkan,
Kadang berbisik tentang kepedihan..

Mimpi datang membesuk,
Sang jiwa mulai kalut,
Harapan membuatnya hidup,
Tapi kenyataan..
Selalu menyisakan tanya..

"Adakah tersisa cahaya nirwana?
Atau setetes air surga,
Untuk aku.. Untuk mereka..
Yang selalu penuh tanya.."

Tulisan ini..
dari "aku" untuk "mereka",
dan dari "mereka" untuk "aku"..


Nb : sebuah tulisan sederhana yang mencoba menggambarkan perasaan gelandangan dan anak jalanan ibukota


September 2011,
Di Ruang Tengah Rumah

Tuesday, July 19, 2011

Sedikit gambaran tentang aku dan hidupku

hai.. namaku Ade, lengkapnya Ade Setio Nugroho, konon kenapa namaku seperti itu,
ADE : aku anak terakhir, bungsu

SETIO : karna kesetiaan selama puluhan tahun (antara ibu-bapakku) maka aku bisa hadir di dunia ini

NUGROHO : aku adalah anugrah (kata ibu, semoga bilangnya dari hati.. huehehe :D)

aku terlahir di keluarga yang sederhana, sangat sederhana, kesederhanaan yang memaparkan kepadaku tentang sulitnya hidup, namun tidak sederhana kebahagiaan yang terhambur di keluarga kecilku.

Aku tumbuh dan berkembang di banyak lingkungan dan banyak pergaulan,
sedikit gambaran tentang aku dan hidupku..

Pecinta Alam


lingkungan pecinta alam adalah lingkungan yang membentuk diriku, aku menjadi seperti sekarang ini, untuk hal baik dan hal buruknya, sebagian besar adalah peran dari lingkungan ini, alam mengajarkanku banyak hal, dan tak pernah bosan untuk mengajariku.


Gunung

Gunung adalah tempatku meringankan hati, menyendiri, lalu melebur, dalam dingin dan sepi..


Pantai


Pantai selalu memberikan kedamaian, lewat percikkan dan deburan ombaknya. Duduk menentang ombak di keheningan senja, adalah ketenangan yang tak bisa di jelaskan dengan tulisan..


Musik


Gitar adalah temanku yang paling setia saat berada di kamar, musik adalah media tempat aku mengekpresikan diri, aku senang membuat orang terhibur dengan aku bermain musik..


Billiard


Billiard, hobiku dari semenjak SMA hingga sekarang..



Futsal


Dari olahraga aku belajar untuk berbesar hati, menerima kekalahan dan kemenangan, mengajar kan aku bekerja-sama dalam sebuah tim..


CINTA (?)



It's hard to explain about this.. :D



That's all a little about me, and my life.. :)